Kamis, 27 Oktober 2011

Sumpah

sembilanbelas oktober
daun basah terkejutkan embun berkah
sinar surga dibawa mentari menuju pagi
bunga mekar menebar benih yang tersampaikan
sepasang kumbang sedang bersenggama
dijadikanya itu kelopak kamarnya

wajah pertama pagi berupa kapas
rapuh akan kedatangan langit kabut
sejuta pena mengambang di awan
wajah pertama pagi sebentuk tulisan

sembilanbelas oktober
menjelma gadis belia yang belum sirna sampai
karena darah belum kaku terkulai
sebab genggam penuh hati yang lalai

bagus182's photostream

IMG_1638IMG_1637IMG_1635IMG_1634IMG_1633IMG_1632
IMG_1631IMG_1629IMG_1628IMG_1627IMG_1626IMG_1613
IMG_1611IMG_1608IMG_1603IMG_1597IMG_1584IMG_1583
IMG_1581IMG_1573

oke.com

Rabu, 26 Oktober 2011

Rhapsody

Rhapsody Simpang Tujuh

angin menumbuk langitlangit jeda
kota biru malam yang tua
diterangi bintang tiupan sangkakala patera
lampu pijar mengerjab cerita
desing lalulalang mobilmobil
orangperorang kerasukan tawa
orangperorang kebangkitan cinta
diubahnya tali jadilah kasih
belajar membaca hati
murni dalam sekali

simpangku tujuh
lalu lalang itu
bagaikan aku
tanpa tuju

masjid matikan lampunya
belum ada pada nyala
lampu kota o lampu kota
dicerahkanya beribu jiwa
berkumpul pada tempat istimewa
simpangku tujuh

aku memandang bulanku
mengatup lisong diantara bibirbibir pahit
mengepulkan asap kereta kecil
langitku,kotaku
berlalu itu debu
susuri jejak jalan
yang terbasuh angin kerinduan
:kenangan

simpang tujuhku
desir angin malamu bagiku
mendesah mesra bagai perawan menggoda
simpang tujuhku
rasa gagalku
dibutakan rindu

Kudus,Oktober 2011



Sabtu, 22 Oktober 2011

Kredoku

Biarkan aku membayangkanya Tuhan,impianku yang pupus,dan biarkan angin-angin yang menyaput mataku dijalan membutakanku,untuk harapan cita-cita khayalan yang telah hancur,kini aku hanya mampu merengkuh begitu banyak senja untuk kujadikan penerangku disaat hantu malam muncul memberiku bertumpuk tumpuk kekalahan.Berat kupikul;malu,terkucilkan,sedih,nestapa,derita dan tiada adalah jiwa-jiwaku sekarang.

Jumat, 21 Oktober 2011

Seorang Pemimpi

Jalan Seorang Pecundang

Sepotong awan berjalan mengiringi hati
Teranglah padang rumput dan bergemetar ia dalam mati
 Sambil merasakan angin menumbuk mukanya
Rengkah pula hatinya karena mimpinya
Hancur dan beterbangan layaknya debu
Sinarnya tak secerah dulu
Ketika awan awan dua-dua burung mampu dibuatnya tertawa
Ketika cendawan bisa dijadikanya bunga-bunga
Dan disaat gadis-gadis mampu dibuatnya jadi manja untuk cinta
Tapi kini kuyu matanya dalam kepatahan asa
Hanya menunggu menanti sepanjang senja
Senja yang begitu sepia.
Senja yang memancarkan cahaya tangga surga
Kuda-kuda tembaga dalam iringan bergerak ke langit
Dia terdiam masih menanti dan mencari kebangkitan.

Dua sungai kecil diantaranya
Mengalir beriringan beriak airnya
Dengan dua kepalan tanganya
Dia pukul angin untuk menghela
Rasa sakit karena kekalahan akan cita

Sepotong bunga jatuh di kepala
Dia ingat tentang gadis dengan rekah bunga angsoka
Begitu luas dan anggunya
Dia menantinya dalam patah asa
Dia kalah.

Sepotong bunga dan sepotong awan kini bersamanya
Mencari kebangkitan menemukanya
Dia beku,dia pilu
Di padang hijau ini pun cemara-cemara memanggilnya
Bergesekan satu sama lain
Suara kepak terdengar pelan
Patah telah sayapnya kini,
para malaikat tak bisa kembali ke surga
untuk memberi doanya kenyataan
untuk memberi doanya berkah
dia sudah kalah.
Yang ada hanya malaikat tanpa sayap
Memberitanya kekalahan dan nestapa
Doanya bukan doa orang saleh
Dia,telah kalah
Maka setelah bertemu malaikat
Dia berjalan menuju cemara yang saling bergesekan
Ditemuinya para peri untuk membantu mencari kebangkitan
Senjakala berubah dari sepia jadi hitam
Bulan terbuka menuju terjaga
Kebangkitan belum ditemuinya
Peri-peri nakal menghina dia
Dia kembali ke jalan angin
Merubah diri menjadi debu
Sekarang,dia mati

Oktober 2011
              

SMA


Kenangan SMA

Matahari kala itu begitu ceria
Memancar kehangatan dan kebahagiaan
Burung dua-dua berpasangan mendaki cemara
Bunga menari tertiup angin
Kami duduk di kelas penuh tawa
Beberapa ada yang mengendap di hati
Gadis-gadis penuhi hatiku,dan
Membuat berbagai lagu
Mata mereka memancarkan semangat berjuta
Cinta membumbung di awan
Kenangan.kembali pada mereka
Melecut api unggun masa muda
Mengukir cerita bersama
Kenangan.masa lalu yang terekam
Genggaman tangan,tangisan kepergian
Perbincangan dengan kawan
Tentang gadis idaman
Kekalahan,kemenangan
Ketidakpastian,kemustahilan
Mencapai cinta untuk melupakan pada akhirnya

Ketika kelas kosong suara
Menunduk untuk berdoa
Memimpi masa depan cerah juga nyata

Sinar cakrawala menanti
Fajar berulang hari
Terbuka lembar baru menanti
Kami menanti menuju pagi
Berkumpul kembali pada satu hari

Satu persatu kami habiskan lisong
Asap bertemu asap dan lenyap
Diatas bukit kecil berbicara cinta
Mata kami menatap satu arah
Langit dan kembara awanya
Mereka melalui kami
Beberapa besar,sedikit yang kecil
Bergerak lamban menuju belahan
Lain waktu dan takkan singgah
Melewati segala isi bumi
Berjalan tanpa henti
Berkembara menyusuri mimpi
Kami,tertidur diatas rerumputan
Imajinasi dinosaurus,kuda berjalan di awan
Melompat jingkrak dan lalu hilang
Angin menerbangkan kami
Kami terbangun dan sadar ,jam selalu berputar
Senja ranum,kami pulang                                                            Oktober 2011

Laut














aku akan selalu merinduka,membenci dan mencintai laut.mendesah mesra lewat deburan ombaknya dan bertemu kerasnya karang kehidupan.Berpadu pada satu waktu;aku kalah laut,aku pergi-

Rabu, 19 Oktober 2011

Surat-Surat Untuk O.E.T


Semesta Puisi Bagimu
Surat Bagi O.E.T

Pagi bukan biasa
cerah suka tertawa
dipancarkanya energi
pada seluruh kota menghangat
berpendar disegala pasti
perpisahan datang melambat.

adalah engkau merekah
mekar mawar itu merah
dan adalah itu engkau berucap
‘aku berdebar’
wajahmu adalah jelita
cerah bagai ini kota
sekarang kau genggam tanganku
sebab perang kini diajukan.
pagi bukan biasa
sore sebelum itu senja
hujan jumat khidmat kepada kota
ceritakanlah aku ,penghibur raga
dari mata aku menerima
dunia menghasutku untuk segera terpana.
jaring cinta sungguh lekat
tanpa sadar aku cinta yang sudah tercinta
adalah engkau pemilik kotak bahagia.

Ketika dua burung putih bermain
diatas pohon hijau cemara
maka engkau akan melihat
mereka bercericit dan saling menggigit.
kepakan mereka kecil adalah mereka
mahir bermain drama romansa.
dan adalah nyanyian merdu mereka
yang sedang engkau perdengarkan berhari
pada segala gundah dan suka.
kelas segera terngiang itu suara
dan binar surya merangkak langit utama
hangat ilmu tuah kita yang pertama.


Engkau bunga kuning pukul sembilan
merekah kuncupnya dijam indahnya
sebaranya bagai padang kecil menghampar.
Perpisahan nantinya sedia berkata
bulanbulan mendatang sendiri
menempuh lagulagu masa
menahan bayonet kembara yang membaretkan
hati bila tiada doa dan pengalaman.
Engkau segera melangkah kemana?
adalah doaku ketika senja sebagian menutup kota
disaat kau tersenyum ramah pada bunga
dan sewaktu engkau memegang itu punggung nestapa
yang terbebani ketakutan pikiran tua.
walau engkau menjentik satu jari,bagai itu memeluk satu hati.
Ku rekam agar selalu terkenang
melati dengan seribu senyum bunga angsoka
putih jiwa seputih taman surga
dunia pada senyumu yang berkembang ronanya
engkau angin sepoi pada rundungan gurun
engkau hujan segar pada tanah tandus
engkau,roh yang berpendar di hati kunangkunang.

Sekarang baru benar senja
kemuning temaram singgah di ufuk barat
engkau lagukan sebuah surga
pada waktu aku mengingat jumat.
Kepadanya
-O.E.T 
kepadanya,
tiada kata untuk mengganti parasnya.
tiada bunga untuk tersanding denganya.
melati putih dengan senyum angsoka.
kelopak mawar yang bermekaran.
bertambah merah mengapi pada darah.
mengobarkan suka padanya.
— hanya sedikit aku melihatnya.

dan ketika engkau melihat wajahnya,
waktu berjalan kurakura.
angin menepi disela.
dan hati teraduk terpana.
bintang kelas yang sedikit manja.

kupu putih yang menebar pesona.
sayapnya mengkilap dwiwarna.
Sayang sudah ada yang punya.

berdiri disekitarnya.
dan memandang wajahnya begitu lama.
itu saja.

melati oh melati.
sedari dulu aku mencintai.
Bintang kelas yang jelita.
nyala unggunku sempat membara.
Surat Bagi O.E.T II
Kupersembahkan Padamu,O.E.T
Kadang hujan menyulap langit berpelangikan warna
hujan menyegarkan dunia
dan langit tertawa lewat pancaran senja
diubahnya warna jingga menyala
berhulu pada sebuah kata romansa
engkau gadis tersayang
disaat pagi menyelesaikan wujudnya
dalam bentuk embun dan ratapan langit putih pada dunia
Engkau gadis manis saat terkembang senyum bahagia
burung semua bernyanyi bagimu
berkicau riang melihat indahmu.
Engkau bunga terharum sepanjang pagi
karena melati masih menguncup tersihir malaikat rizki
Engkau adalah bidadari dunia
karena disurga telah Tuhan turunkan satu
 padaku disaat semua masih berdoa: kau.
Engkau sebelum pagi dan fajar tiba
doamu segera terlaksana
karena hatimu tak pernah ada dengki dan jahat
engkau gadis terbaik diantara lainya.
Bukan masih mengais berahi diremang lampu jalanjalan kota.
Engkau malam bermekaran bintang terang
lalu bulan mengerling padamu
dipancarkanya cahaya suci untukmu
dan lagu romansa merdu.


Sore juga berkata menawan
pada wajahmu tersemburat cahaya sejahtera
kuda – kuda subur di tanah surga
akan segera engkau naiki
dan kita menuju seribu awan penuh permainan
Senyum bahagia hidup sentosa
burung kecil pada menghampirimu
menyuruhmu melagukan suatu lagu
hari minggu.
sebarkan pada mereka engkau pujaan hati,sebuah lagu haru
sedang angin terus menyalamiku pada kenangan
dan sorot lampu redup disepanjang jalan.
Engkau langitku dan bungaku
Pelangi hujanku dan engkau,
Imaji di mimpi gerak kaki yang  terlalui hari
Ragamu dinda,menembus hati dan jiwa
Sebentar lagi melangkah membumbung
Jauh,dan pergi tualang bersama burung.

Surat Lain Untukmu
Ku berlari memegang tanganmu
disebuah sore yang megah
Di tengah sebuah padang berbunga
Seketika sewaktu berpapas muka,
matamu terindah diantara semua
Dan antara dahi dan alis menawan
kuimpikan dalam bentuk seribu bintang.
Masuklah wahai sayang.lilin dan sajak bunga padamu.
Di lembahku,keterpurukan hanya seonggok absurditas
Karangan bungabunga gembira
menyertai langkahmu menuju satu panggung bertakhta angin surga
Yang berhembus disegala jiwa memainkan rasa cinta
Berlarilah cinta.
Hingga bayangan merasa lelah
Hingga angin dan laut berpadu mendesah
Mesra dalam pelukan karang keras
Dan engkau mulai rebah
Dalam sebuah tidur menunggu cerah
pada sebuah gita dari pencari cinta.

Sajak Bunga Bagimu
Bermekaran disegala pagi
Tuhan ciptakan satu yang terindah
yang turun dari surga bersama melati
yang sedianya tergenggam hakiki
pada semerah hati
milik pujangga yang sepi
dan layu mati adalah pemberita dari derita
pada melati di sebuah bunga;engkau
bila sedih pandanglah melati
tangis dan sakit berupa imaji
bagi ia,melati
karna kau juga bunga surga
lebih dari indahnya kelopak angsoka
dan megah lebih dari teratai

Sepi Darimu
Sepi bertangkai duri
Lebih gelap dari ironi
Dan kejam lebih tragedi
Dari sepi aku membelai mimpi
Terus menerus sampai pagi dan bayangan membuntuti
langkahku karena sepi
adalah kabut pekat membunuh malam
adalah angin kejam memporanda pepohonan
adalah laut bergelombang menerjang kapal
karam musnah dilautan
Terbujur terdiam tanpa bantuan
mendekati kehilangan pada sebuah keriuhan
Sepi itu khayalan
berpuncak pada segala kenangan
Sepi itu luka
menganga penuh nanah tak diperdulikan
Sepi itu racun
sesak nafas dan panas di dada
Sepi itu kau
gadis terindah yang ditelan malam.

Lama Tiada Jumpa
Pertemuan menyisakan kerinduan
disembunyikanya perasaan di dalam kenangan
diseluk beluk hati yang paling
dan paling menakjubkan tersimpan jauh
dan jauh di dalam
kata hanya angin yang sesekali segar
hati hanya tempat mengadu keinginan
digabungkanya bagai seutas tali harapan
akan pertemuan yang didamba
segenap begitu aku rasa
pada angin kata dan rintihan bunga
sehingga senja enggan pulang padaNya
menanti kataku sebagai angin baginya

Begitu juga kau
walau tiada hati merasa
bagiku sebuah bahagia
melihatmu bersama senyum pesona
pada alunan sebuah gita
di sore pertama
matahari senja
menjelang gelap bintang
engkau semoga bahagia
aku ingin dipertemukan
pada kau yang tiada menaruh kata
pada hati dan senjaku yang fana

Meditasi Hijau
-pada sebuah  bukit kecil
Berhembus hingga ingin aku terpejam
menghanyutkan dalam igau memanggil
tenggelam mata dalam kantuk
dan lisong menantiku diujung bibir
asap mengepul membayangkanmu
 dan angin berlalu

Sebuah Perasaan
Lembah itu padam
belum habis namun terang
sesekali cahaya semu temaram
jalan berliku dan lalu hilang
Pada waktunya mata takkan terpejam
menanti siapa bakal datang
Jiwa kerusuhan,bagai ia angin tanpa suara
menanti di ujung jalan
jika bukan engkau
adalah itu kemilau khayalan

Kepada Mereka
Karena mereka bertiga
Lebih mirip cahaya yang menyala
Melati pada hati,doa pada tasbihnya dan bir diujung bibir
Ketika hijau daun menggugurkan warnanya
Saat itulah burung semua mati
Baginya tempat pulang adalah kupu-kupu
Sayap warna biru
Terbang begitu anggun
Mereka akan hilang
Bersama gelap malam

Semua telah mati
Burung dan pohon di hatiku
Yang kemarin bermain di taman:burungku
Tertembak peluru
Pohon kenanganku mati tiada air kehidupan
Karena mereka bertiga lebih mirip cahaya menyala
Mata cerah,rona wajah salju,bibir penggoda
Yang pulang dan membunuh hatiku