Pesawat
Tanpa Awak di Langit Dunia
runtuhlah kebijaksanaan
yang dibangun abad-abad
ketika aku menjejakkan
kakiku sendirian
di dekat sumur kosong
gelap tak berbatas
di kubur, di mana
lolongan anjing-anjing mati
setia mengkuduskan
segalanya.
aku menatap sisi gelap
bulan dari mata yang lain
sebelum pagi mengucur
bagai kencing orang tua
dan perkataan yang
mulia para penganut agama
jadi lembek selepot
tahi di bokong bocah-bocah.
mengikat orang-orang
oranye pada tiang pancang
agar menatap Bima Sakti
yang jelek
dan meniupkan
ketakjuban mereka pada semua perkara dunia
adalah nasib buruk bagi
kehidupan
aku telah mengatakan
kebisingan yang tak perlu didengar
oleh manusia dungu yang
hanya tersita pada Tuhan
sebab kedua tanganku
mengikat nadi mereka
untuk tetap mati
meskipun terlahir ke dunia ini:
dengan satu
perkecualian bahwa yang mati sadar ia sudah mati—
aku menyaksikan diriku
tenggelam dalam salju beku
yang menikam jiwa
setiap benda-benda tak bernama
mirip gua pengurung
tujuh kanak 300 tahun
–borok mana lagi yang
telah dikabarkan, selain kisah ajaib
dari langit dan jin yang tak pernah kulihat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar