Minggu, 17 Juli 2016

Pertemuan dengan Enrique Lihn



cerpen Roberto Bolano

Tahun 1999, setelah kembali dari Venezuela, aku bermimpi tengah dibawa ke apartemen Enrique Lihn, di negara yang bisa juga sudah Chile, di sebuah kota yang bisa juga sudah Santiago, mengingat bahwa Chile dan Santiago mirip neraka, kemiripan itu, di beberapa lapisan bawah tanah dari kota nyata dan kota imajiner, selamanya akan tetap ada. Tentu saja, aku tahu bahwa Lihn sudah mati, tapi ketika orang-orang yang membawaku menawarkan kunjungan untuk bertemu dengannya aku menerima tanpa ragu. Mungkin aku berpikir bahwa mereka sedang main lelucon, atau keajaiban yang mungkin nampak masuk akal. 

Tapi mungkin aku cuma kehilangan akal, mengira bisa memenuhi undangan itu. Namun nyatanya, kami datang ke gedung tujuh lantai dengan fasad dicat kuning pudar dan bar di lantai dasar, bar yang cukup nyaman dan besar, dengan meja panjang dan beberapa kios, dan teman-temanku (meskipun tampaknya aneh untuk menggambarkan mereka seperti itu, mari kita hanya mengatakan penggemar yang telah menawarkan untuk membawaku bersua dengan si penyair) membawaku ke sebuah bilik, dan di sanalah Lihn. 

Awalnya, aku hampir tidak bisa mengenalinya, itu bukan wajah yang pernah kulihat di buku-buku; ia kelihatan lebih kurus dan lebih muda, ia jadi tampan, dan matanya tampak lebih terang daripada mata hitam-putih dalam foto-foto bersampul. Bahkan, Lihn tidak terlihat seperti Lihn sama sekali; ia tampak seperti aktor Hollywood, aktor daftar B, jenis yang membintangi serial TV atau film yang tidak pernah ditampilkan di bioskop-bioskop Eropa dan hanya tampil di video-video. Tetapi pada saat yang sama, itu memang Lihn; aku tidak ragu tentang itu. Penggemar menyapanya, menyebutnya Enrique dengan keakraban palsu yang terdengar, dan menanyakan pertanyaan yang tak aku mengerti, dan kemudian mereka memperkenalkan kami, meskipun sejujurnya aku tidak perlu diperkenalkan, karena untuk sementara waktu, meskipun singkat, aku telah berhubungan dengan dia, dan surat-suratnya telah, dengan caranya, membuat aku tetap kesana-kemari; aku sedang berbicara tentang 1981 atau 1982, ketika aku hidup seperti pertapa di sebuah rumah di luar Gerona, tanpa uang dan tidak ada prospek untuk memiliki apapun, dan sastra adalah ladang ranjau raksasa yang diduduki musuh, kecuali untuk penulis klasik yang seberapa ( hanya beberapa), dan setiap hari aku harus berjalan melalui ladang ranjau itu, di mana setiap langkah yang salah bisa berakibat fatal, dengan modal puisi-puisi Archilochus yang membimbing diriku. Ini seperti diwajibkan untuk semua penulis muda. Ada saatnya ketika kau tak punya dukungan, bahkan dari teman, melupakan mentor, dan tidak ada satu pun orang yang merentangkan tangannya; publikasi, hadiah, dan hibah yang disediakan untuk orang lain, orang-orang yang mengatakan "Ya, Pak," berulang-ulang, atau mereka yang memuji sastra luar, gerombolan yang tidak pernah berakhir hanya dibedakan oleh kemampuan mereka akan disiplin dan hukuman—mereka tidak ada yang lolos dan mereka tidak memaafkan apapun.

Omong-omong, seperti yang aku katakan, semua penulis muda merasa seperti ini di beberapa titik atau di lain kesempatan dalam kehidupan mereka. Tetapi pada saat aku berusia dua puluh delapan tahun dan dalam keadaan aku bisa menganggap diriku seorang penulis muda. Aku terpaut. Aku bukan penulis Latin-Amerika khas yang hidup di Eropa berkat sokongan pemerintah. Aku bukan siapa-siapa dan cenderung tidak memohon belas kasihan atau untuk menunjukkan itu. Lalu aku mulai korespondensi dengan Enrique Lihn. Tentu, aku adalah orang yang memulai korespondensi itu. Aku tidak perlu menunggu lama untuk jawabannya. Surat panjang, surat penuh amarah, seperti yang kami katakan di Chile: suram dan mudah marah. Dalam balasanku, aku bercerita tentang hidupku, rumahku di negeri ini, di salah satu bukit di luar Gerona, kota abad pertengahan di depannya, pedesaan dan kekosongan menghampar. Aku juga bercerita tentang anjing peliharaanku, Laika, dan mengatakan bahwa sastra Chile, dengan satu atau dua pengecualian, itu taik. Itu terbukti dari surat berikutnya yang menandakan kami resmi berteman. Yang terjadi selanjutnya adalah apa yang biasanya terjadi ketika seorang penyair terkenal berteman dengan seorang yang tidak dikenal. Dia membaca puisi gubahanku dan beberapa puisi itu dibacakan pada acara yang ia helat yang tujuannya menyajikan karya generasi muda di lembaga Chile-Amerika Utara. Dalam suratnya dia meramalkan sekelompok calon penyair muda yang ditakdirkan bakal jadi besar, enam harimau perpuisian Chile pada tahun 2000. Enam harimau itu adalah Bertoni, Maquieira, Gonzalo Muñoz, Martínez, Rodrigo Lira, dan aku. Kupikir. Mungkin ada tujuh harimau. Tapi aku pikir cuma ada enam. Itu akan menjadi sulit bagi kami berenam untuk menjadi sesuatu yang jauh pada tahun 2000, karena saat itu Rodrigo Lira, yang terbaik dari enam itu, telah membunuh dirinya sendiri, dan apa yang tersisa dari dirinya baik yang telah membusuk selama bertahun-tahun di beberapa kuburan atau abu, bertiup di sekitar jalan-jalan dan berbaur dengan kotoran dari Santiago. Julukan kucing lebih tepat daripada harimau. Bertoni, sejauh yang aku tahu, seorang hippie yang tinggal di laut, kerjaannya mengumpulkan kerang dan rumput laut. Maquieira menulis studi yang cermat tentang antologi puisi Amerika Utara Cardenal dan Coronel Urtecho, menerbitkan dua buku, kemudian santai-santai untuk minum. Gonzalo Muñoz pergi ke Meksiko, yang aku dengar, ia menghilang, tidak karena mabuk minuman, seperti konsul Lowry, tapi dalam industri periklanan. Martínez melakukan analisis kritis "Duchamp du Signe" dan kemudian meninggal. Adapun Rodrigo Lira, yah, aku sudah menjelaskan apa yang terjadi padanya. Tidak begitu banyak lagi harimau sebagaimana kucing, bagaimanapun kau saksikan itu semua.

Anak-anak kucing dari provinsi yang jauh-semenjana. Lagi pula, apa yang ingin aku katakan adalah bahwa aku kenal Lihn, sehingga tidak ada perkenalan yang diperlukan. Namun demikian, para penggemar mulai memperkenalkan aku, dan baik aku maupun Lihn keberatan. Jadi kami di sana, di sebuah bilik, dan suara-suara yang mengatakan, ini adalah Roberto Bolaño, lalu aku mengulurkan tangan, lenganku diselimuti oleh kegelapan tempat itu, dan aku memegang tangan Lihn, tangan yang sedikit dingin, yang meremas tanganku selama beberapa saat—tangan orang sedih, kurasa, sebuah tangan dan jabat tangan yang terjalin sempurna pada wajah yang mengamati aku tanpa menunjukkan tanda-tanda pengakuan. Setidaknya bagiku, korespondensi itu sekadar gestur, isyarat, dan mulut yang tidak mengatakan apapun.

Setelah itu berlalu, para penggemar mulai berbicara lagi dan keheningan surut; mereka semua meminta Lihn berpendapat tentang isu-isu dan peristiwa yang paling berbeda, dan pada saat itu penghinaanku pada mereka menguap, karena aku menyadari bahwa mereka sama seperti aku dulu: penyair muda tanpa dukungan, anak-anak yang akan bungkam karena pertemuan pusat orang-orang kiri Chile dan tidak memiliki dukungan atau patronase, yang mereka butuhkan cuma Lihn, seorang Lihn yang tampak tidak senyata Enrique Lihn saat ia muncul di foto bukunya, tapi terlihat lebih tampan dan lebih baik dari Lihn, seorang Lihn yang menyerupai puisi-puisinya, yang telah mengadopsi usia mereka, yang tinggal di sebuah bangunan yang mirip dengan puisi-puisinya, dan yang bisa lenyap tenggelam, cara tegas dan elegan yang puisinya kadang-kadang memuat kehilangan.


Ketika aku menyadari ini, aku merasa lebih baik. Maksudku, aku mulai memahami situasi dan merasa lucu. Aku tidak perlu takut: aku ada di rumah, dengan teman-teman, dengan penulis yang selalu aku kagumi. Ini bukan film horor. Atau bukan sebuah film horor yang nampak nyata, tapi film horor dengan dosis besar humor gelap. Dan seperti yang aku pikir humor gelap Lihn terekstraksi jadi sebotol kecil pil di sakunya. Aku harus mengambil satu setiap tiga jam, katanya. Para penggemar sekali lagi terdiam. Seorang pelayan membawa segelas air. Pil yang besar. Itulah yang kupikir ketika aku melihatnya jatuh ke dalam segelas air. Namun pada kenyataannya itu tidak besar. Itu padat. Lihn mulai memecah pilnya dengan sendok, dan aku menyadari bahwa pil itu tampak seperti bawang dengan lapisan yang tak terhitung jumlahnya.

Aku membungkuk dan mengintip ke dalam gelas. Sejenak aku cukup yakin bahwa itu adalah sebuah pil yang tak terbatas. Kaca melengkung memiliki efek pembesar, seperti sebuah lensa: dalam gelas, pil merah jambu pucat itu hancur seakan melahirkan sebuah galaksi atau alam semesta. Tapi galaksi lahir atau mati (aku lupa yang mana) tiba-tiba, dan apa yang bisa aku lihat melalui sisi yang melengkung dari kaca yang berlangsung dalam gerakan lambat, setiap tahap tidak bisa dimengerti, tiap pencabutan dan aku bergidik saat melihat pil ditarik keluar. Kemudian, merasa lelah, aku duduk kembali, dan lirikanku, terlepas dari obat itu, naik memenuhi Lihn, yang tampaknya mengatakan, No comment, itu cukup buruk mesti menelan ramuan ini setiap tiga jam, tidak berusaha mencari makna yang simbolis—air, bawang, pawai lambat dari bintang-bintang. Penggemar telah pindah dari meja kami. Beberapa berada di bar. Aku tidak bisa melihat orang lain. Tapi ketika aku melihat Lihn lagi, ada seorang penggemar bersamanya, membisikkan sesuatu di telinganya sebelum meninggalkan bilik untuk menemui teman-temannya, yang tersebar di seluruh ruangan. Dan pada saat itu aku tahu bahwa Lihn tahu dia sudah mati. Jantungku menyerah untuk berdetak, katanya. Sudah tidak ada lagi. Ada sesuatu yang tidak benar di sini, pikirku. Lihn meninggal karena kanker, bukan serangan jantung. Sesuatu yang sangat berat tiba-tiba menekan diriku. Jadi aku bangun dan pergi untuk meregangkan kaki, tapi tidak di bar; aku pergi ke jalan. Trotoar abu-abu dan tidak merata, dan langit tampak seperti cermin tanpa awan, tempat di mana segala sesuatu harus tercermin tapi di mana, pada akhirnya, tidak ada. Namun demikian, perasaan yang normal menang dan merasuki semua visi, memenuhi diriku. Ketika aku merasa bahwa aku punya udara segar yang cukup dan sudah waktunya untuk kembali ke bar, aku menaiki tangga menuju pintu (tangga batu, blok tunggal dari batu yang memiliki konsistensi granit dan kemilau permata) dan berlari ke seorang pria yang lebih pendek dariku yang berpakaian seperti seorang gangster lima puluhan, seorang pria yang memiliki sesuatu dari karikatur tentang dia, pembunuh ramah yang klasik, yang membuatku terlibat dengan seseorang yang dia tahu dan menyapa diriku. Aku menjawab salamnya, meskipun dari awal aku yakin bahwa aku tidak tahu dia dan bahwa dia salah, tapi aku bersikap seolah-olah aku tahu dia, seolah-olah aku juga telah melarutkannya dengan orang lain, sehingga kami berdua saling menyapa seraya kami tidak mantap mendaki tangga batu yang bersinar. Tapi kebingungannya tidak berlangsung lebih dari beberapa detik, ia segera menyadari bahwa dia salah, dan kemudian ia menatapku dengan cara yang berbeda, seolah-olah ia bertanya pada diri sendiri bila aku yang salah, terlalu, atau jika, sebaliknya, aku telah mencancangnya dari awal di sana, dan karena ia kebal dan mencurigakan (tajam dengan cara paradoksnya sendiri), dia bertanya siapa aku, dia bertanya dengan senyum jahat di bibirnya, dan aku berkata, sial, Jara, ini aku, Bolaño, dan itu menjadi jelas bagi siapa pun dari senyumnya bahwa dia bukan Jara, tapi ia memainkan permainan, karena jika tiba-tiba, tersambar petir (dan tidak, aku tidak mengutip salah satu puisi Lihn ini, apalagi puisiku), ia naksir gagasan hidup kehidupan yang tidak diketahui Jara untuk satu atau dua menit, yang Jara tidak akan pernah, kecuali di sana, terhenti di tangga kesekian, lalu dia bertanya tentang kehidupanku, dia bertanya padaku (setebal papan) siapa aku, mengakui secara de facto bahwa dia Jara, tapi Jara yang sudah lupa keberadaan Bolaño, yang bisa dimengerti, setelah semuanya, jadi aku menjelaskan kepadanya siapa aku dan, sementara aku sedang menjelaskan, begitu pula, siapa, sehingga menciptakan Jara yang cocok denganku dan dengannya, yang, sesuai momen— mustahil, cerdas, berani, kaya, murah hati, seberani Jara, cinta dengan seorang wanita cantik dan dicintai olehnya sebagai imbalan—dan kemudian si gangster tersenyum, lebih dan lebih sangat yakin bahwa aku mencancang dia tetapi tidak mampu menyudahi pertemuan itu, seolah-olah ia tiba-tiba jatuh karena karakter yang kubangun baginya, dan mendorongku untuk mengatakan kepadanya tidak hanya tentang Jara tetapi juga tentang teman-teman Jara dan akhirnya dunia, dunia yang tampaknya terlalu lebar bahkan untuk Jara, sebuah dunia di mana Jara besar adalah semut yang kematiannya pada tangga yang bersinar itu tidaklah penting sama sekali bagi siapa pun, dan akhirnya, teman-temannya muncul, dua orang tinggi mengenakan jas double-breasted berwarna terang, yang memandang diriku dan pada Jara palsu lalu bertanya padanya siapa aku, dan dia tidak punya pilihan selain  mengatakan, ini Bolaño, dan kedua orang itu menyapa diriku. Aku menjabat tangan mereka (cincin, jam tangan mahal, gelang emas), dan ketika mereka mengundangku buat minum-minum dengan mereka, aku berkata, aku tidak bisa, aku bersama seorang teman, dan mendorong masa lalu Jara melalui pintu lalu menghilang ke dalam. Lihn masih di bilik. Tapi sekarang tidak ada penggemar yang terlihat di sekitarnya. Gelasnya kosong. Dia sudah menelan obat dan sedang menunggu. Tanpa mengucapkan sepatah kata, kami pergi ke apartemennya. Dia tinggal di lantai tujuh, dan kami naik lift, lift yang sangat besar, lebih dari tiga puluh orang bisa muat. Apartemennya agak kecil, terutama untuk seorang penulis Chile, dan tidak ada buku. Pertanyaan dariku itu dia jawab, bahwa dia hampir tidak perlu membaca lagi. Tapi selalu ada buku, tambahnya. Kau bisa melihat bar dari apartemennya. Seolah-olah lantainya terbuat dari kaca. Aku menghabiskan beberapa saat domprok, menonton orang-orang di sana, mencari penggemar, atau tiga gangster tadi, tapi aku hanya melihat orang-orang asing, makan atau minum, dan sebagian besar bergerak dari satu meja atau bilik yang lain, ke atas dan ke bawah bar, semua terhisap demam kegembiraan, seolah-olah dalam sebuah novel dari paruh pertama abad kedua puluh. Setelah beberapa saat, aku sampai pada kesimpulan bahwa ada sesuatu yang salah. Jika lantai apartemen Lihn adalah kaca dan begitu pula langit-langit bar, lalu bagaimana cerita tentang enam orang itu? Apakah mereka juga terbuat dari kaca? Lalu aku melihat ke bawah lagi dan menyadari bahwa antara lantai pertama dan lantai ketujuh tidak ada apa-apa cuma ruang hampa. Penemuan ini membuatku tertekan. Yesus, Lihn, di mana sebenarnya kau membawaku, pikirku, meskipun segera aku berpikir, Yesus, Lihn, di mana mereka tengah membawamu? Aku bangkit dengan hati-hati, karena aku tahu bahwa di tempat itu, yang bertentangan dengan dunia normal, benda-benda lebih rapuh ketimbang manusia, dan aku pergi mencari Lihn, yang telah menghilang, di berbagai ruangan apartemen, yang tak tampak kecil lagi, seperti apartemen seorang penulis Eropa, tetapi luas, besar, seperti apartemen seorang penulis di Chile, di Dunia Ketiga, dengan bantuan domestik yang murah dan mahal, benda-benda halus, apartemen penuh tarian bayangan dan kamar agak gelap, di mana aku menemukan dua buku, satu klasik, seperti batu halus, yang lain modern, abadi, seperti sampah, dan secara bertahap, karena aku mencari Lihn, aku juga mulai merasa dingin, kian kaku dan dingin. Aku mulai merasa sakit, seandainya apartemen ini menyalakan sumbu imajiner, tapi kemudian pintu terbuka dan aku melihat kolam renang, dan ada Lihn, berenang, dan sebelum aku bisa membuka mulut dan mengatakan sesuatu tentang entropi, Lihn mengatakan hal buruk tentang obat, pil yang ia telan untuk membuatnya tetap hidup. Bahwa dengan menelan pil-pil itu mengubahnya jadi kelinci percobaan untuk perusahaan obat, kata-kata yang bagiku entah bagaimana kuharapkan untuk didengar, seolah-olah seluruh hal yang terjadi tiba-tiba mengingatkan aku akan adegan demi adegan si aktor temanku, lalu Lihn keluar dari kolam renang dan kami pergi ke lantai dasar, kami berjalan melalui bar yang ramai, dan Lihn mengatakan, harimau sudah tamat, rasanya manis sementara hal itu berlangsung, dan, kau tidak akan percaya ini, Bolaño, tetapi di lingkungan ini hanya orang mati yang pergi keluar jalan-jalan. Dan kemudian kami sudah sampai di depan bar dan berdiri di dekat jendela, melihat keluar di jalan-jalan dan tampang bangunan dalam lingkungan aneh di mana satu-satunya orang yang berjalan di sekitarnya telah mati. Dan kami melihat dan melihat, tampang bangunan itu terlihat jelas, sebuah fasad di lain waktu, seperti trotoar tertutup mobil yang diparkir yang juga berasal dari lain waktu, waktu yang diam belum merebak (Lihn sedang menonton pergerakannya), waktu yang mengerikan itu bertahan selama tak ada alasan lain selain inersia belaka.[]


 diterjemahkan oleh : Bagus Dwi Hananto, Maret 2016

sumber: The New Yorker

Selasa, 21 Juni 2016

Guci Retak



akan dipanggil layaknya apa masa lalu yang tak dibiarkan lupa?
menyabit ekor mataku rontok dan wajahku babak belur dihajar kesepian
jalan-jalan pongah, manusia mirip asu tertawa meledek kesusastraanku
serupa ikan-ikan di sungai busuk limbah pembuangan mayat ular limbung
sebelum menggali ajal, aku akan menunggu masa lalu dijemur insomnia
lalu berpesta seperti bocah di hadapan boneka dan cangkir-cangkir kosong.

dengan bah dari langit, aku gemetaran menyaksikan lampu jas hujan para polisi
berpendar, melingkar, membungkuk, pecah oleh pripit mendadak
bertarung, teriak, melon-melon yang dibungkus baju putih kena tilang—
serigala masa lalu meninggalkan tetak panjang di geladak perahu-perahu dunia bawah,
ke Lethe, murung penuh hantu memandang bintang dan neraka
menjemur mereka dan aku.

aku untal racun lautan. aku hangatkan memori becak-becak tua ketika aku duduk di landasan kaki bertahun-tahun lalu agar kulitku tergigit yuyu kecil di saku; sementara pipa celanaku terombang ambing angin dan pak tua pengayuh dan handuk kumal di lehernya tak mengerti kenangan ini. aku bahkan lupa namanya, seperti sinagog yang tak pernah kukunjungi atau vihara tempat naga berbau dupa membisu tanpa dogma tertentu. aku lupa melempari masjid kepala babi jika saja aku punya iman berlebih pada kekunoan sedangkan aku lupa mengebom gereja karena tak dicuci otak oleh onta-onta tua berjidat hitam. aku lupa menyembah api, api di mana-mana api kebencian aku lupa...

Bagian yang Menyedihkan Tak Bisa Dihapus



Bagian 1:
Malam lagi. Jauh di sana—sebelum kami berbicara tentang teks, sebelum kami bicara tentang hujan yang datang di sebuah kota yang tak kumiliki—bunyi kesibukan menuntunku melihatnya lebih dekat. Maka kami menaiki tangga persegi yang panjang, menuju sebuah jendela lebar dari masjid tanpa cat yang bangunannya masih direnovasi. Tampak hotel besar dengan nama bercahaya yang menyinari sebagian atap rumah di sekelilingnya. Satu kubah besar dari sebuah masjid lalu keheningan, keheningan menyeruak tiba-tiba saat kami tidak mendengar yang lain. Hanya suara kami. Hanya dengung dari mulut kami.
“Di sini, aku biasa selonjorkan diri,” kata Penyair Tua itu. Rambutnya keperakan diterpa sinar bulan. Suara tikus-tikus mengais sampah dan musik dari buku puisinya, menjelma pelipur lara.
“Seperti fragmen sebuah novel. Kejadian ini seperti fragmen sebuah novel!” Pengarang Biasa menggerakkan sebagian tangannya dan berusaha menerangkan apa yang ia lupa. Kemudian kenangan datang tiba-tiba sehabis memandang kumpulan atap di jauh sana.
Dia berjalan jauh ke pantainya lagi. Pasir dan kano. Bunyi laut. Perempuan berkacamata hitam. Aku tak memiliki apapun selain membaca puisi Penyair Tua dan mencoba mendengar kata-kata Pengarang Biasa tentang kenangannya akibat persinggungan dengan ini semua.
Penyair Tua berbicara padaku mengenai kehidupan. Jalan berliku menuju rumahnya selalu kuanggap kebahagiaan atas pertemuan menyenangkan.
“Pohon raksasa itu berubah jadi monster!”
“Dan kau merawatnya dengan baik, kawanku,” jawab Pengarang Biasa.
“Pohon raksasa yang puitis,” imbuh Penyair Sekota. Artinya tiga kalimat telah melayang ke udara. Malam itu musik di kepalaku adalah Nocturne dari tahun 1892. Dan aku tak bisa gegas sebab teks-teks yang kami lontarkan membentuk sembahyang hening yang ungu yang biru tempat bintang-bintang menempel begitu juga kerinduanku pada luasan di jauh sana. Kekosongan. Kesementaraan momen. Aku ingin tetap ada di sana. Mencoba jadi hamba Tuhan yang setia.
Seekor tokek mengunyah kecoak dan seekor semut hitam mencicipi bubuk kopi di sendok cangkirku. Satu buku. Dua dan ratusan. Aku mencari sebuah buku. Aku mencari ratusan kekayaan. Di luar pintu, hanya keheningan dan masjid di samping rumah Penyair Tua itu tetap singup dalam kemistikannya seusai kami turun dari undak-undakan berdebu.
Aku melambung bersama Nocturne. Masuk. Kata-katanya hanya melewati kupingku. Sastra. Perenial. Tuhan. Tuhan. Masuk dan keluar dari kupingku. Nocturne melewati aku dan aku tenggelam dalam rimba melodius. Ketika mengunjungi rumah sajak Penyair Tua kawanku ini, yang bisa kulakukan adalah menikmati kesendirian dalam kegembiraan kolektif. Puisi. Puisi. Seperti manis di lentik bulu mata cinta pertamaku.
“Hanya bermodal nekat, seseorang bisa membukukan puisi-puisinya!”
“Di luar daun-daun gugur. Kata-kata ini bisa juga kau coretkan di buku metafisismu!”
Buku bersampul kapal uap adalah buku terbaik yang dia miliki. Di dalamnya takkan kau temukan kata-kata. Sebaliknya, seorang pembaca kekosongan mesti menorehkannya sendiri.
“Satu-satunya petunjuk bahwa waktu telah larut, cuma tokek kusam ini!” Ia menunjuk kadal itu yang bersembunyi di celah genteng seolah tahu dia dituding karena suatu hal.
Tak ada bunyi. Asap rokoknya melambung jauh dan lenyap. Moksa dalam cerita. Di kakiku nyamuk-nyamuk menghisap darah dan rasa bahagiaku adalah duduk di samping buku-buku masa lalu. Aku tidak butuh kehidupan lain selama ada di sini. Aku tidak butuh dunia ribut yang menuding diriku sebagai anjing sial. Aku tidak butuh kesendirian selama bersama kaum bahasa yang tak mesti menampakkan diri di luar sana. Gairah eksistensi hanya kitsch yang diurai waktu. Puisi kami bisa dibaca suasana. Puisi kami bergaung di dinding-dinding dan kedalaman malam. Di antara keheningan, seekor tikus mencoba masuk ke tempolong gula.
“Hush, kus. Pergilah! Ini bukan jaman puisi yang membebaskan makna kata!”
“Ini jaman puisi tanpa anak tangga!”
“Tidak mungkin puisi terbebas dari makna kata-katanya. Sebab puisi disandangi bahasa!”
“Betul. Kalau ada kredo macam gitu. Cuma puisi jelek yang dia tuliskan!”
“Satu bintang dan keabadian semu.”
“Satu bintang, ya, hanya satu.”
“Nol besar!”
Kami setuju dengan itu. Aku makin yakin bahwa puisi jelek mesti dipendam dalam kelupaan. Puisi jelek yang digaung-gaungkan di masa lalu, harus tetap jadi masa lalu. Dia tidak seperti kenangan, yang pantas diulang-ulang.
Ketika kau menulis puisi jelek yang menjelek-jelekkan keyakinan penyair lain maka kau bukanlah seorang penulis puisi meski puisimu jelek. Seperti aku.
Tidak ada penyair yang bilang dia penyair. Penyair didaku oleh alam. Puisi jelek bertebaran dari mereka yang bukan penyair. Penyair adalah tulisan dan laku asketik. Penyair bukanlah keglamoran pertemuan dan kejelekan karya yang dibilang bagus dari lingkar pertemanan. Penyair adalah dia yang sedang duduk dan menatap lampu terang. Dunia di luarnya daun-daun gugur bulan November yang mulai dingin. Penyair ini ada di hadapanku. Menghisap lisong dan mulai meneruskan pengembaraannya dalam kata-katanya sendiri. Dalam ikatan bahasa.
Malam itu, kenangan, Nocturne, dan suara penyair tua di depanku, menjadikan aku masuk dalam dunia sesungguhnya. Tanpa keraguan. Tak ada omong kosong.
Bagian 2:
Lampu itu amat temaram. Kisahku belum usai di sana. Semut hitam muncul dan lenyap seperti puisi-puisi yang pernah kutulis. Puisi-puisi yang kutulis mengacak-acakkan kakinya di taplak meja penuh buku itu. Mataku menghisap malam, di antara kepedihan dan insomnia, aku menemukan satu titik lampu merah yang berpijar di rerimbunan daun pohon-pohon maut. Aku membawanya sampai ke luar kota. Melewati debu yang diembus truk-truk raksasa. Melewati perempuan-perempuan yang menawarkan pahanya seolah dirinya menu cepat saji. Melewati rembulan. Dan menuju rumah sajak dengan pohon yang gulir-gulirnya menghujam genteng. Penyair Tua hidup sebatang kara tapi penuh puisi. Puisinya melewati diriku. Dan aku terhisap pada sebuah sajak tentang Despedida. Aku berlayar dalam kolase. Aku meludahi orang gondrong yang sok di koran pagi sebuah negeri kabut asap. Aku memikirkan tawa seorang perempuan yang kecil dan manja. Aku terhisap dalam suaranya. Akulah kehidupan di antara kata-katanya padaku waktu itu. Aku tak menemukan apapun untuk jadi diriku.
Aku buka pintu rumahnya. Menemukan dia menghisap rokoknya. Kami berbincang dan duduk sembari dia merebus air lalu menyeduh kopi.
Jendela yang memperlihatkan tembok adalah bingkai yang kurindukan jika duduk di sana. Keluar lagi adalah suasana dingin gaib yang meniupkan kekosongan sementara.
“Selamat malam, penyair bakat alam!”
“Selamat menempuh kesendiran bersama kami!”
“Yang jelas, aku menulis puisi untuk diriku sendiri. Inilah kehormatan.”
“Ya.”
“Ya, ya-yaka, yaka. Ini diucapkan dalam sebuah cerpen.”
“Karangan siapa?” tanyanya.
“James Joyce.”
“Betulkah? Seperti apa tadi ucapnya?”
“Ya, yaka, yaka!”
“Ya, yaka, yaka” Dia membuka mulut dan menamparnya berkali-kali. Seperti kartun Indian marah yang dibuat para gringo.
“Kalau gitu seharusnya kau bilang. ‘Ouwouwouwo....’”
“Tidak pas dengan tadi, ya?”
“Ya. Kurang pas.”
Sesudahnya dia duduk lagi. Kami duduk kembali. Dua kucing melintas di luar. Satu hitam satu putih. Satu timpang ke kiri yang lain ke kanan. Konsep dan metafor. Yang pertama tidak mesti yang utama. Sekarang kami akan berdiri dan menari dalam kegembiraan meskipun dunia kiamat dan orang-orang lain mesti menari seperti kami. Meskipun didengungkan sangkakala dan ada orang-orang bangkit dari kuburnya. Makna kami yang menari di atas tanah sebuah rumah dengan pohon monsternya akan tetap ada, meskipun entah diingat oleh siapa atau apa. Kami akan tetap ada dan menari di sana. Kami akan tetap ada dan berbincang tentang puisi di sana. Kami akan tetap ada dan menyeduh kopi hitam di sana dan kami akan tetap ada seperti puisi-puisi yang hangus, puisi-puisi anonim yang melebihi sebuah keabadian. Kami akan tetap ada meskipun keberadaan sudah tidak ada. Makna masih ada dan dijejakkan di sana.
“Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Tidakkah mesti diganti begini: ‘Bagaimana kenapa?’”
“Apanya yang diganti?”
“Pertanyaanmu.”
“Kenapa mesti kuganti begitu.”
“Itu cuma aku.”
“Maksudmu?”
“Itu hanya aku yang tak mau mendengarmu bertanya: ‘Bagaimana?’”
“Dancuk kau!”
“Hehe.”
“Huh! Baik kuganti: Bagaimana kenapa?”
“Maksudnya ‘Bagaimana kenapa’?”
“Pertanyaan awalku!”
“Oh....”
“Ayo cepat jawab!”
“Weit...tunggu dulu. Aku butuh seteguk kopi!”
“Jawab sekarang!”
“Nah... kita akan membuat buku puisi!”
“Ide yang bagus.”
“Mengesankan.”
“Setiap orang dari kita urun 10 puisi!”
“Oke. Buku puisi tak perlu tebal. Bosan bacanya!”
Aku memikirkan Serenada. Aku memikirkan puisi yang kucipta setelah tamasya ke taman krida. Dan suara gadis kecilku yang merajuk karena keinginannya batal.
Aku memikirkan hujan jatuh dan hujan tak kunjung jatuh. Aku memikirkan Tuhan tapi tidak bisa kutemukan wajah yang pas darinya. Aku memikirkan jalan panjang yang sejuk di sebelah kenangan masa laluku dan aku merasa mau muntah sepanjang jalan itu. Aku memikirkan wajah perempuan dan perempuan itu pasti tidak memikirkanku. Aku memikirkan aku-aku yang kini berada jauh dariku. Melintasi waktu dan hidup di dunianya sendiri. Aku memikirkan rembulan. Kesintingan macam apa yang bakal kudapat. Aku memikirkan manusia sebab mereka menyebalkan. Aku memikirkan orang dungu yang berkata bahwa dia penganut paham tak jelas yang ia cetuskan sendiri dengan nama nihilisme teror; dan menurutnya takdir manusia adalah musnah. Aku memikirkan kata-kata dan mereka tidak datang bila kupikirkan. Aku memikirkan kehendakku dan sebuah buku puisi tidak perlu diakui orang lain; cukup kami saja yang merituskannya di dalam rumah sajak seorang penyair. Aku tak memiliki teman abadi yang bisa menerima segalanya kecuali kawan-kawan kesusastraan yang bekerja karena seni itu sendiri. Orang-orang sejati yang tak memiliki nafsu ingin diakui. Aku memikirkan lukisan-lukisan dan bangunan-bangunan di tepi danau yang sejuk dan sepasang homo melantunkan kegembiraannya di sebuah waduk yang kecil dan sunyi ketika pagi. Aku akan memihak pada mereka karena kebebasan adalah kutukan. Aku memikirkan agama tapi tidak ada yang pas di hatiku. Aku memikirkan cinta pertamaku dan gulungan rambutnya yang mengombak dan harum. Kekasih masa kecilku yang ditelan waktu. Aku ingin lari dari kenangan tapi orang-orang sok yang menulis puisi membuatku muntah dan kembali pada masa laluku. Aku memikirkan pengetahuan sebuah batu yang sering kulempar ke kali di masa aku kecil: Apakah dia tidak marah padaku ketika tenggelam ke dalam kegelapan kali kotor itu. Dan aku memikirkan malam karena kemistikannya berarti satu: kesunyian.
Bagian 3:
Di dalam sebuah novel yang kau baca, seseorang tenggelam di laut karena dia melupakan kenangannya. Kesunyian menindihnya; ia telah sangat lupa pada kenangan sebab mengira akan datang sebuah jawaban pada seorang tokoh yang mencoba mengartikan definisi kesunyian. Kau terkejut membaca kisah itu. Seperti cermin pertama yang kau dapati dirimu ada di dalamnya ketika masih bocah. Setiap detik terperanjat dan takjub pada dunia.
Di tengah laut, sebuah perahu tanpa awak mendatangimu. Itu karena, selesai membaca novel, kau mengambang di kesesatan laut. Tepat saat membaca titik kalimat terakhir di pungkasan novel, kau langsung dilemparkan oleh segenap kekuatan dari luar dirimu sampai ke hamparan laut. Kau kaget. Dalam dingin air dan rasa tak percaya, kau mengutuki dirimu sendiri dan rasa takut menjalar karena hantu tak nampak yang membawamu ke sini; Hantu Penghayatan. Ketakjuban bundar yang menelan kita saat hanyut dalam sebuah cerita.
Kau mencakar-cakari udara, tak bisa berenang sebelum satu raihan terakhir tanganmu sampai pada lingiran perahu di bagian buritan. Kau angkat tubuhmu, memasuki perahu. Dayung panjang di sebelahmu. Kau selamat, tidak jadi mati.
Kau berada di mana, kau tanyakan itu berulang kali pada dirimu. Tapi jawabannya tidak ada. Kau tidak tahu dirimu berada di mana. Kau merasa semua biru ini begitu mengerikan. Kesunyian, kekosongan.
Kau mendayung. Entah berapa lama kau mendayung. Berjalan atau tidak, yang jelas di sana cuma ada biru sejauh mata memandang. Kehidupan lain sekadar suara dalam laut: debur yang menggoncang itu perahu dengan dirimu di dalamnya. Kau sendirian. Kau selalu sendirian. Mungkin saat ini ada yang menonton dirimu dari luar dan mempermainkan kau ke dalam sebuah novel yang baru saja kau tandas ceritanya.
Bagian 4:
Aku dirikan rumah. Di pantai. Tidak ada siapapun di sana. Kehidupan terindah yang bakal dimiliki manusia adalah tidak ada eksistensi lain yang sebentuk dengannya di sebuah tempat. Pasir berbunyi, jejak diriku sendiri melangkahinya dari hari ke hari dan suara ombak di lautan, tentu saja akan berharga untuk disesap sendirian. Setelah ini aku tidak akan menulis lagi. Aku hanya menulis apa yang pernah kutulis; berkali-kali sampai nanti mati. Di rumah itu akan kupasang sesuatu mirip fonograf. Sesuatu buat mendengar musik dan aku hidup di sana selama mungkin.
Di rumahku akan ada ribuan buku yang membuatku terus sibuk menelusuri dunia dari abad-abad lalu hingga kini. Satu lampu di sudut meja untuk menerangi aku membaca. Dan sore dan malam dari tahun-tahun yang hilang. Akan tidak ada keramaian dan bahasa manusia hanya kubaca dalam buku-buku. Setelah itu kebisuan merapat ketika aku memandang senja atau bintang-bintang dan suara air di laut, ribuan pasir tergerus ke dalamnya.
Aku melangkah, menuju kasur. Lalu kupandang jendela yang menanarkan biru padaku. Aku akan menulisnya berkali-kali. Tak bosan karena di sana hanya aku seorang. Aku tak perlu orang lain untuk mengusir kesepian sebab bagiku dia adalah teman yang sesungguhnya. Dia datang, melempar batu kecil ke kepalaku dan dia bersembunyi di kotak penyimpanan kubik es nenekku. Dia lenyap di antara mata merah sebuah lampu yang digelut rimbun daun pepohonan. Dia menatapku dengan tajam; sebuah tatapan angkuh yang mengajarkan padaku bahwa apa yang sudah terjadi biar jadi masa lalu. Aku akan menerimanya dengan santun, sebagai sahabat seumur hidupku.
Rumahku kayu. Tak ada pagar di luarnya. Langsung menatap laut. Pantai tanpa pohon-pohon palem. Pantai tanpa pekikan camar. Hanya aku dan buku. Suara lain adalah gemuruh ombak.
Pagi hari adalah waktu berdoa. Bukan kepada apa atau siapa. Aku berdoa untuk diriku sendiri. Dari suasana pagi, berkah teks demi teks yang terjalin rapi dalam buku-buku; dan bau dingin yang mengingatkan diriku pada kesegaran yang aku rindukan.
Aku memutar musik. Taman abadi kehidupan Faun. Aku meniup seruling, memanjang dan lama. Menyibak cahaya mentari di bukit-bukit hijau. Dan yang terakhir aku bayangkan adalah sebuah lubang hitam menyeramkan yang bakal menghisap aku ke dalam entah.
Selama ini, ratusan tahun aku hidup, yang ada cuma kesesatan.