Frederico Garcia Lorca
Nyanyian Pohon
Jeruk Gersang
Penebang.
Tebas bayangan dariku.
Bebaskan aku dari siksa
menyaksikan diriku tanpa buah.
Mengapa aku terlahir diantara cermin?
Terik yang berpendar mengukungku
malam yang menyalinku
dalam gemintangnya.
Aku ingin hidup tanpa melihat tubuhku.
Dan biarlah aku bermimpi
semut dan bunga duri
adalah daun dan kicauku.
Sajak yang enak dan manis dari seorang Rimbaud saya sajikan lagi dalam blog ini,saya terjemahkan pada bulan Oktober lalu,semoga bermanfaat!
Fajar
Aku
telah mengecup fajar musim panas.Sebelum istana tak berpindah.Air terbaring
mati.
Batalion
bayangan masih menyusuri hutan.
Aku
berjalan.menghangatkan diri dan menarik nafas,Sementara bebatu mengawasi,dan
kepakan beranjak tanpa suara.
Petualangan
pertamaku,pada setapak berkilau telah,Dengan semburat malis cahaya,Adalah
sekuntum bunga yang mengatakan padaku namanya.
Aku
tertawa pada Wasserfall pirang,Yang menggerai rambutnya melewati pinus:Diatas
puncak keperakan,Aku datang kepada batari.
Lalu
satu demi satu,Aku mengangkat cadarnya.Di perjalanan panjang,melambai
pelukanku.
Melintasi
padang rumput,Dimana aku mengkhianatinya untuk ayam.Dalam kota hati ia
melarikan diri di antara menara dan kubah,Dan aku memburunya,berebut seperti
seorang pengemis pada marmer dermaga.
Diatas
jalan,dekat semak belukar pohon salam,Aku menangkapnya di kerudungnya yang
terkumpul,Dan mencium aroma tubuhnya yang dahsyat.Fajar dan bocah jatuh
bersamaan di bawah kayu.
Ketika
aku bangun,ini sudah siang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar