Dari Tangan Pemuda
esai
Bagus Burham
Seorang
pemuda berumur 18 tahun menulis sajak yang nantinya serupa dengan jalan gerilya
hidupnya yang berisi:Aku tahu,ya aku
tahu!/Jika aku keluar,sungai menelanku//Inilah takdirku:Hari ini aku pasti
mati!/Tapi tidak,kekuatan jiwa akan mengatasi segalanya//Ada beribu
rintangan//Ku akui itu//Takkan aku keluar//Jika harus mati,biarlah terjadi di
gua ini//…Begitulah bait pertama yang ditulis pemuda itu.Ia akhirnya
menjelma seorang pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin
gerilya,ialah Che Guevara.Sajak yang tergerak dari lingkup ketimpangan dan rasa
tidak merdeka,membuat seorang Guevara menjadi pahlawan akan angan dan harapan
tentang tanah Latin yang banyak dikuasai para diktator.
Revolusi yang berjalan atas hasil dari
sebuah bentuk pemerintahan yang rezim otoriter,membuat cerita dan epik bagi
pelakunya.Hak asasi manusia yang tertindas oleh kaum-kaum hipokrit pemangku
kuasa negara,justru membangkitkan semangat menyala-berkobar dalam setiap mata
pemuda yang ingin perubahan.Soekarno pernah berkata,“Bawakan aku sepuluh
pemuda,maka aku akan mengguncang dunia!”Benarlah pepatah yang
dicetuskannya,pemuda yang berperan sebagai penggerak,motor bangsa adalah
manusia penting dalam kehidupan berbangsa bernegara.Pemuda merupakan penggerak
sebuah keutuhan dari bangsa yang tengah diperintahkan.
Di
jaman pra kemerdekaan,banyak pemuda bergerak memajukan bangsa dan kehidupan
negerinya,dari seorang Haji Omar Said Cokroaminoto,Soekarno menguasai bagaimana
menjadi orator ulung yang mampu mempengaruhi hati pendengarnya.Dengan filosofi
hidupnya’Pancasila’ yang ditemukan di bawah pohon ketika ia di asingkan,ia
telah mengubah pandangan hidup masyarakat Indonesia.Bukan sekadar
dogma,melainkan ajaran luhur yang mesti diamalkan dan dilanjutkan untuk
kelangsungan kehidupan bangsa.
Pemuda
Gagal
Di
jaman sekarang,waktunya kami berbenah.Tawuran antar pemuda,penghasutan dari
obat-obatan terlarang,membuat buyar semua cita dan angan harapan.Semestinya
pemuda mesti kembali pada nilai-nilai norma dan akidah kehidupan bangsa yang
disusun para foundingfather dengan sebaik-baiknya,bukan malah melepas berbagai
amarah di jalan dan saling menghabisi nyawa saudara sekandung tanah
air.Pemuda-pemuda dewasa ini telah menjelma sosok yang selalu pragmatis tidak
lagi kritis terhadap fenomena masyarakat,sosial dan budaya.Merebaknya segala
hal yang instan,menjadikan kami malas dan selalu men-sedakepkan tangan dan
meminta segala kenyamanan dari para orang tua.Pemuda yang tak pernah tertata
segala tindak hidup dan moralnya,ketika dewasa dan cerdas juga menduduki tampuk
kuasa,akan menjadikannya berpikiran cupet,nurani sempit dan akhirnya seperti
terlihat di berita-berita,menjadi tersangka kasus korupsi.Memelaratkan bangsa.Hidup
mesti terus kedepan namun masih harus tahu,akar rumput kita,dari mana budaya
kita.Kita adalah bangsa dengan filsafah luhurnya yang menjunjung aturan norma
yang bertujuan membentuk karakter bangsa yang disiplin,luhur dan jujur.Seperti
halnya pemuda yang menjadi bupati suatu daerah,yang tadinya mesti sebagai suri
tauladan kini menjelma bahan cacian karena tingkahnya ihwal perkawinan yang
singkat.Pemuda gagal akan menghancurkan bangsanya sendiri sebab pemudalah yang
pada akhirnya sebagai tonggak estafet penerus kehidupan bangsa.
Kesadaran Nasionalisme
Dalam
buku sajaknya yang berjudul Indonesia
Tumpah Darahku(1922),Muhammad Yamin,adalah penyair pertama yang menulis
tentang kesadaran kebangsaan.Sajak-sajak M.Yamin bernafaskan nasionalisme yang
kental dan kuat.Sajak-sajak berlandaskan cinta tanah air bisa menyadarkan pada
kita bagaimana rasa nasionalisme itu berada jauh dalam lubuk hati kita.Rasa
nasionalisme yang kental akan menjadikan kita selalu siap sedia,jujur,dan taat
dalam hal ihwal kebangsaan.Rasa nasionalisme bukan hanya dalam sepak bola
saja.Ketika timnas bermain kita menggebu-gebu dan meneriakan kata ‘Garuda’
namun mesti disadari dan diresapi bahwasanya nasionalisme mesti ada dan
tertanam dari hati semenjak kita mampu mengerti kata dan mampu
berhitung.Pancasila pengobar rasa nasionalisme itu terus kita junjung agar kedepannya,rasa
itu tidak akan lesap begitu saja bagai asap rokok di luas udara.Nasionalisme
adalah akar dari roda-roda penggerak kemajuan bangsa.Ia astral namun mengendap
di dalam dada,Ia adalah harum sukma dalam sekujur gairah sejahtera dan karena
itu Ia adalah kita.
Untuk
Indonesia
Indonesia telah banyak menderita dari
berbagai penghianatan dan penjajahan.Para pemuda-pemuda yang berada dalam
tampuk kekuasaan malah meraup untung dari kekuasaannya bukan dengan maksud dan
tujuan menyejahterakan rakyat namun memperkaya diri dengan jalan korupsi.Dengan
menguntungkan diri sendiri,kesenjangan,ketimpang semakin merebak.Kemiskinan
masih masalah utama di bumi pertiwi,pendidikan yang baik dan berkarakter masih
belum optimal dengan masih banyaknya tawuran antar pelajar.Pemuda mesti
bergerak sendiri,mengevaluasi diri.
Kita
adalah saudara yang mesti membawa kemakmuran dan kerukunan antar sesama tak
peduli warna kulit,agama dan dimana kita berasal.Kesenjangan mesti ditebas
dengan rasa dermawan dan saling pengertian.Pemuda adalah kita,penggerak dan masa
depan bangsa.Dengan satu tujuan independen bukan dari partai,yaitu memajukan
bangsa Indonesia,sebab kita:sebagai mata
garuda/mengerling tak mempan kerikil hadang/memekik lantang/di angkasa langit
dunia/membawa pesan jaya/sejahtera indonesia.
--Bagus Burham,esais dan penyair
Tidak ada komentar:
Posting Komentar