Jumat, 14 Desember 2012

Esai



Dari Tangan Pemuda
esai Bagus Burham

    Seorang pemuda berumur 18 tahun menulis sajak yang nantinya serupa dengan jalan gerilya hidupnya yang berisi:Aku tahu,ya aku tahu!/Jika aku keluar,sungai menelanku//Inilah takdirku:Hari ini aku pasti mati!/Tapi tidak,kekuatan jiwa akan mengatasi segalanya//Ada beribu rintangan//Ku akui itu//Takkan aku keluar//Jika harus mati,biarlah terjadi di gua ini//…Begitulah bait pertama yang ditulis pemuda itu.Ia akhirnya menjelma seorang pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin gerilya,ialah Che Guevara.Sajak yang tergerak dari lingkup ketimpangan dan rasa tidak merdeka,membuat seorang Guevara menjadi pahlawan akan angan dan harapan tentang tanah Latin yang banyak dikuasai para diktator.
     Revolusi yang berjalan atas hasil dari sebuah bentuk pemerintahan yang rezim otoriter,membuat cerita dan epik bagi pelakunya.Hak asasi manusia yang tertindas oleh kaum-kaum hipokrit pemangku kuasa negara,justru membangkitkan semangat menyala-berkobar dalam setiap mata pemuda yang ingin perubahan.Soekarno pernah berkata,“Bawakan aku sepuluh pemuda,maka aku akan mengguncang dunia!”Benarlah pepatah yang dicetuskannya,pemuda yang berperan sebagai penggerak,motor bangsa adalah manusia penting dalam kehidupan berbangsa bernegara.Pemuda merupakan penggerak sebuah keutuhan dari bangsa yang tengah diperintahkan.
     Di jaman pra kemerdekaan,banyak pemuda bergerak memajukan bangsa dan kehidupan negerinya,dari seorang Haji Omar Said Cokroaminoto,Soekarno menguasai bagaimana menjadi orator ulung yang mampu mempengaruhi hati pendengarnya.Dengan filosofi hidupnya’Pancasila’ yang ditemukan di bawah pohon ketika ia di asingkan,ia telah mengubah pandangan hidup masyarakat Indonesia.Bukan sekadar dogma,melainkan ajaran luhur yang mesti diamalkan dan dilanjutkan untuk kelangsungan kehidupan bangsa.
 Pemuda Gagal
    Di jaman sekarang,waktunya kami berbenah.Tawuran antar pemuda,penghasutan dari obat-obatan terlarang,membuat buyar semua cita dan angan harapan.Semestinya pemuda mesti kembali pada nilai-nilai norma dan akidah kehidupan bangsa yang disusun para foundingfather dengan sebaik-baiknya,bukan malah melepas berbagai amarah di jalan dan saling menghabisi nyawa saudara sekandung tanah air.Pemuda-pemuda dewasa ini telah menjelma sosok yang selalu pragmatis tidak lagi kritis terhadap fenomena masyarakat,sosial dan budaya.Merebaknya segala hal yang instan,menjadikan kami malas dan selalu men-sedakepkan tangan dan meminta segala kenyamanan dari para orang tua.Pemuda yang tak pernah tertata segala tindak hidup dan moralnya,ketika dewasa dan cerdas juga menduduki tampuk kuasa,akan menjadikannya berpikiran cupet,nurani sempit dan akhirnya seperti terlihat di berita-berita,menjadi tersangka kasus korupsi.Memelaratkan bangsa.Hidup mesti terus kedepan namun masih harus tahu,akar rumput kita,dari mana budaya kita.Kita adalah bangsa dengan filsafah luhurnya yang menjunjung aturan norma yang bertujuan membentuk karakter bangsa yang disiplin,luhur dan jujur.Seperti halnya pemuda yang menjadi bupati suatu daerah,yang tadinya mesti sebagai suri tauladan kini menjelma bahan cacian karena tingkahnya ihwal perkawinan yang singkat.Pemuda gagal akan menghancurkan bangsanya sendiri sebab pemudalah yang pada akhirnya sebagai tonggak estafet penerus kehidupan bangsa.
  Kesadaran Nasionalisme
     Dalam buku sajaknya yang berjudul Indonesia Tumpah Darahku(1922),Muhammad Yamin,adalah penyair pertama yang menulis tentang kesadaran kebangsaan.Sajak-sajak M.Yamin bernafaskan nasionalisme yang kental dan kuat.Sajak-sajak berlandaskan cinta tanah air bisa menyadarkan pada kita bagaimana rasa nasionalisme itu berada jauh dalam lubuk hati kita.Rasa nasionalisme yang kental akan menjadikan kita selalu siap sedia,jujur,dan taat dalam hal ihwal kebangsaan.Rasa nasionalisme bukan hanya dalam sepak bola saja.Ketika timnas bermain kita menggebu-gebu dan meneriakan kata ‘Garuda’ namun mesti disadari dan diresapi bahwasanya nasionalisme mesti ada dan tertanam dari hati semenjak kita mampu mengerti kata dan mampu berhitung.Pancasila pengobar rasa nasionalisme itu terus kita junjung agar kedepannya,rasa itu tidak akan lesap begitu saja bagai asap rokok di luas udara.Nasionalisme adalah akar dari roda-roda penggerak kemajuan bangsa.Ia astral namun mengendap di dalam dada,Ia adalah harum sukma dalam sekujur gairah sejahtera dan karena itu Ia adalah kita.

 Untuk Indonesia
     Indonesia telah banyak menderita dari berbagai penghianatan dan penjajahan.Para pemuda-pemuda yang berada dalam tampuk kekuasaan malah meraup untung dari kekuasaannya bukan dengan maksud dan tujuan menyejahterakan rakyat namun memperkaya diri dengan jalan korupsi.Dengan menguntungkan diri sendiri,kesenjangan,ketimpang semakin merebak.Kemiskinan masih masalah utama di bumi pertiwi,pendidikan yang baik dan berkarakter masih belum optimal dengan masih banyaknya tawuran antar pelajar.Pemuda mesti bergerak sendiri,mengevaluasi diri.
     Kita adalah saudara yang mesti membawa kemakmuran dan kerukunan antar sesama tak peduli warna kulit,agama dan dimana kita berasal.Kesenjangan mesti ditebas dengan rasa dermawan dan saling pengertian.Pemuda adalah kita,penggerak dan masa depan bangsa.Dengan satu tujuan independen bukan dari partai,yaitu memajukan bangsa Indonesia,sebab kita:sebagai mata garuda/mengerling tak mempan kerikil hadang/memekik lantang/di angkasa langit dunia/membawa pesan jaya/sejahtera indonesia.

 --Bagus Burham,esais dan penyair

Tidak ada komentar:

Posting Komentar