Di Desa Eyang
Angin yang senyawa
panas yang teriknya membakar bajubaju di jemuran
pagi dengan suara tapal kuda bebentur aspal
rodaroda pedati berputar jalan
setangkai melati gugur di atas rambut kuda
suara pecut melencong ke pasar
serangga bersiuran diatas rumput
capung hijau menjentik ke air
ikan sepat menarik napas
dari kali yang jernih.
Layang layang terputus benang
berubah kini jadi limbong.
segerombolan bocah berlari menuju arah layangan jatuh ke tanah
pohon mangga yang teduh
aku bermain di bawahnya.
tanah lempung dan cacingnya.
di kali yang jernih
ikan cucut,cetak,lele,belut
setiap ku pulang eyangku bergumam
sembari berkata dengan jengkel;
"ono banaspati,nang!"
setan penghuni kali kata eyang
menarik kaki bocahbocah menuju dasar.
Sore yang syahdu
pohon kol belanda yang bergeliat keatas
di tepi kali.
kupanjat kubermain menatap kali,
lagi ikanikan berkecipak.
menjelang petang aku harus pulang.
"Candi Ala,nang"
tutur eyang.
Dan ketika malam
lampu teplok pada nyala
pedagang bakso dekat pos ronda.
bocahbocah bermain sepeda.
sedang yang lain mengaji di mushola.
Januari,2012
Jumat, 20 Januari 2012
Senin, 09 Januari 2012
Pada Sebuah Jalan
dari jalanan yag tak punya ibu
dan angin yang tak dapat membaca koran
hanya melemparnya kembali terpental ke jalan
gerobak penuh sampah
pagi yang mengucapkan syukur
tiada daya atas segala kuasa
tuhan menjentikan warna yang sebegitu raya
pada jalan,angin,pagi dan koran.
dari jalan yang tak punya kasih
lampu pecah piring terbelah
pengemis renta dengan buntungnya meminta
langit malam kuasa tuhan
hujan tiba
sepi mengguratkan berbagai nasibnya.
dari jalan yang penuh pelajar berhamburan
meniti masa depan
atau jalan kelamlewat pergaulan lewat keyakinan.
dari jalan yang tak bermata
iblis berselimut rumput
kelap kelip menjerumus dari belakang badan
membisikan kata nafsu
di saat malam minggu.
dari jalan yang bercabang
cahaya teplok pedagang mie ayam
harapan penuh laku dagangan.
dari jalan yang begitu dingin di saat malam
mengibaskan sebegitu banyak kenangan
cinta dan kasih sayang.
Jan-2012
dan angin yang tak dapat membaca koran
hanya melemparnya kembali terpental ke jalan
gerobak penuh sampah
pagi yang mengucapkan syukur
tiada daya atas segala kuasa
tuhan menjentikan warna yang sebegitu raya
pada jalan,angin,pagi dan koran.
dari jalan yang tak punya kasih
lampu pecah piring terbelah
pengemis renta dengan buntungnya meminta
langit malam kuasa tuhan
hujan tiba
sepi mengguratkan berbagai nasibnya.
dari jalan yang penuh pelajar berhamburan
meniti masa depan
atau jalan kelamlewat pergaulan lewat keyakinan.
dari jalan yang tak bermata
iblis berselimut rumput
kelap kelip menjerumus dari belakang badan
membisikan kata nafsu
di saat malam minggu.
dari jalan yang bercabang
cahaya teplok pedagang mie ayam
harapan penuh laku dagangan.
dari jalan yang begitu dingin di saat malam
mengibaskan sebegitu banyak kenangan
cinta dan kasih sayang.
Jan-2012
Langganan:
Komentar (Atom)