Kau
bisa menonton sejumlah kenangan. Perasaan yang tiba-tiba menentramkan saat kau
melihat atau memegang sebuah benda yang kau anggap berarti. Itu terjadi padaku.
Saat itu usiaku enam tahun. Benda yang bertahun-tahun kemudian membuatku jatuh
cinta, selain lagu-lagu John Mayer setelahnya, pada Dublin,Tbilisi atau
kota-kota imajiner yang aku bayangkan adalah: kotak macis.
Sebuah kotak korek api tersudut di
sebelah kusen bawah jendela klasik di rumah pamanku. Pertamanya kulihat kotak
itu, tertera lukisan kecil di sana bergambar pasar dan anak kecil yang tengah
melempar apel ke udara. Hingga kini masih kukenang beberapa stan buah-buahan
Nampak, dan juga bunga-bunga yang berdiri sejajar. Beberapa perempuan tua
sedang jualan. Sejak saat itu, bahkan kenangan telah mengambil tempat bagi hati
atheis seorang pecundang. Perasaan melankolis semacam ini bertubi-tubi datang
mengingatkan aku: Kotak.Gambar.Bocah dengan Apel. Lalu waktu, yang mengalun dan
terus mengalun hingga menyisakan seonggok manusia busuk sepertiku; tumbang,
buduk, dan tanpa mimpi lagi.
Aku akan duduk berlama-lama di salah
satu sudut, dekat jendela, memegang kotak macis itu. Lukisannya membuatku masuk
dan ingin menjadi anak yang sedang melambungkan apel. Dunia seperti malih rupa.
Langit impresi sengaja diletakkan begitu saja dan masa kecil seorang introvert
sangat berharga saat imajinasinya berubah jadi nyata. Lalu aku berjalan di tengah-tengah pasar itu.
Di suatu pagi cerah saat mentari datang begitu hangat, tanpa menyisakan
kemuraman semalam. Seperti gerak lembut gorden yang disingkap atau jemuran. Dan
sajak Anne Sexton, menggelayut pulang dari kesedihannya yang memilih untuk mati.
Kenangan tentang gambar itu tidak
bisa dihapuskan sampai bertahun-tahun kemudianl, di jendela ini, di kemeriahan
gaduh keluarga Pak Tua, dan di pohon-pohon favoritku. Sialnya kota itu sudah
tak lagi bisa ditemukan. Suatu ketika, seperti biasa di sudut jendela rumah
pamanku, cuma tersisa kehampaan yang sebelumnya di tempati kotak korek api kenanganku.
Benda yang kini sudah di daur ulang jadi kertas jenis lain.
Beberapa
saudara dekatku, di masa aku kecil, selalu tercenung, tertegun menatap diriku
saat ini. Seolah-olah segala keburukan yang dihasilkan dunia, kini ada padaku.
Aku bisa kau bayangkan seperti babi, seperti kakek-kakek, seperti seekor tikus
bau dari got yang begitu pekat dan dalam, seperti kesedihan itu sendiri.
Aku selalu tersiksa menyaksikan
wajah cantik sepupuku. Tak bisa mengatakan kepadanya bahwa, dari masa aku
kecil, aku telah jatuh cinta kepadanya. Dunia di mataku tidaklah sama bagi
orang-orang asu di luar yang mudah mendapat kegembiraan. Kenangan berkelindan
memuntahkan segi melankolisnya pada kita. Untuk sesaat kita tak bisa apa-apa.
Terdiam dan mulai mengenali, di dalam kepala kita, bahawa kenangan sedang
diputar. Peristiwa-peristiwa terjadi di masa lalu yang masih kau ingat hingga
kini.
Salah satu mimpiku adalah melihat
sebuah tebing tinggi berwarna hijau lalu jalan-jalan menikung, berkelok-kelok
di seputar tebing itu, dan tiba-tiba aku sampai di sebuah warung untuk membeli
bensin eceran. Saat itu wajah pertama pada alur di dalam mimpi adalah wajah
Lenya, gadis tercintaku, yang sampai kini tak bisa ditemukan atau aku yang
sepenuhnya bersembunyi tak dapat ditemukan. Hanya
dia yang tahu berapa lama lagi aku harus menunggu; dan hanya aku yang tahu
berapa lama lagi dia mesti menunggu. Dan kami tak poernah bertemu. Takkan
pernah. Takdir atau segala omong kosong tentang itu, mencegah kami. Mungkin ia
telah lupa padaku. Bayangan seorang anak kecil yang agak manis pasti akan
mengejutkan dirinya jika menemukan diriku malih seperti babi peliharaan Orwell;
lelah, licik dan siap diolok-olok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar