: tuhan menjamuku di dalam pesta
/1/
acara berbincang telah sampai di sini
sebuah kecemasan mengambang
menggambar ruang yang pengap oleh waktu
di sini, jendela, kursi dan bangku
jelma kekukuhan yang tak pasti tentang esok
demi esok yang melangkah seperti seretan ombak
akan banyak kekecewaanku terkuak dalam kata-kata
memanjat udara yang kosong, di sini
jendela rapuh menerima cahaya dari kegelapan
dan kursi kering tersebab beban tak menemukan ujung
papan tulis hanyalah sepenggal kehampaan untuk dilukai
dan suara kita menjerat kerapuhan yang ramai
di luar pintu adalah jejak ribut bergegas
sepi terbenam pada jam 11 yang tanpa diterka-terka
akan tak punya makna
/2/
menempuh atas yang tinggi, kata-kataku tidak akan
didengar
karena hidup hanyalah mengisi tempat-tempat kopong
yang sebelumnya berada di dinding-dinding buta metafisis
dari kesakitan begini, meringkuk di dalam kamar sempit
tempat tak ada dihembuskannya nyawa
kenangan acapkali datang seperti kawan lama;
cintaku iseng
sendiri naik ke langit
naik dan naik hingga tiada ditelan tuhan
waktu, percakapan, puisi, dan rumah-rumah—
sekadar dilalui sebelum menjadi neraka
2015