-sebuah cerpen asal-asalan-
ide cerita : Haruki Murakami,George Orwell
oleh
: Bagus Burham
Sepasang
suami-istri setengah baya tampak sedang ngomel-ngomel di depan penjaga usang di
gerbang gedung tua yang sepertinya sudah akan runtuh. Dari jauh, kata-kata yang
kutangkap ada ; “pembunuh” , “edan” , “kupecahkan kepalamu!”.
Dari
sini, mereka seperti segumpal noda yang melekat di jalan. Aku tengah bersantai
sambil mencatat karakter mobil-mobil yang lewat di jalan. Yah, kesukaan yang
aneh; mencatat mobil-mobil yang lewat di jalan. Semisal mobil sedan itu
warnanya hitam, sepasang ban depan dengan pelek mengkilap dan terkesan
pemiliknya menjaga betul mobil itu sampai terlihat bagus dan nyaman.
Suami-istri
itu bergerak menjauhi gerbang, sekarang malah menuju tempatku bersantai.
Semakin dekat, mereka tampak seperti orang-orang yang sungguh harus diberi
perhatian. Wajah sang Suami memang tampan,tapi ada sebuah lubang hitam besar di
atas dahinya. Seakan itu black hole
di angkasa. Sementara sang Istri memang biasa saja tapi yang ganjil dari tubuh
kurusnya adalah sepasang buah dada sebesar semangka,yang terkesan ia memikul
berat yang tak sesuai dengan daya tubuhnya.
Angin
membawa debu dan terik menyengat. Untungnya sebatang pohon besar tempatku
bersandar menaungi tubuhku dari panas. Siang yang sungguh panas. Pasangan tadi
sudah sampai di depanku. Tiba-tiba berkata, “Kau sudah berapa lama di sini?”
kata si Suami.
Aku
hanya menjawab, barusan saja. Orang itu terus menatapku. “Apa yang kau lihat?”
ia bertanya lagi. Aku bilang bukan apa-apa. Sebenarnya memang benar, aku melihat
dada istrinya yang tidak proporsional dengan tubuh kecilnya.
Suara
keras mobil saling menubruk terjadi selang beberapa menit kami berdiam tanpa
kata. Di depan kami, angkutan warna putih dengan sedan. Para penumpang angkutan
turun dan pindah lain angkutan. Pengendara sedan itu marah-marah dengan
kata-kata awut-awutan yang menyerambul dari mulutnya. Pengemudi angkutan hanya
terdiam. Dan di langit sepasang piring terbang lewat sebegitu cepatnya sampai
sekedip mata sudah lenyap.
Aku
tidak beranjak dari tempat santaiku. Begitu pula Suami-Istri yang masih saja
berdiri di depanku. Si Istri dari tadi hanya diam dan si Suami dengan mata
jelalatan terus mengamatiku. Edan! Apa yang ia inginkan?
***
Aku
tersadar. Tempat ini gelap dan hanya terdiri dari beberapa jendela dan kipas
angin menggantung. Tanganku terikat dan mulutku diplester. Aku menjerit
sekuat-kuatnya tetapi hanya terdengar gumaman saja. Dari kegelapan di depanku, suara
derap kaki orang lebih dari satu semakin mendekat. Kurang ajar! Ternyata
sepasang Suami-Istri tadi. Dengan senyum aneh tersungging di wajah si Suami, ia
menenteng kerahku erat-erat. “Katakan, apa yang kamu ketahui?” katanya.
Perasaanku bingung. Apa yang kuketahui? Aku tidak tahu. Aku tadi hanya duduk
bersantai di bawah sebuah pohon, mengamati mobil yang lewat, dan menyaksikan
kecelakaan. Apa yang kuketahui?
Ia
melepas penutup mulutku. Sekali lagi bertanya tentang apa yang kuketahui. Aku
menjawab tidak tahu apa-apa. Sekali lagi ia bertanya apa yang kuketahui. “Aku
tidak tahu apa yang kau maksud dengan apa yang kuketahui.”
“Apa
yang kau ketahui? Jelas, katakan!” pertanyaan si Suami terus membentur
telingaku.
“Aku
tidak tahu apapun. Aku tadi hanya bersantai di bawah pohon. Kumohon lepaskan
aku…”
Dengan
pentung hitam seperti yang dimiliki satpam-satpam, si Suami memukuliku lantas
bertanya seperti tadi. Aku tidak bisa menjawab. Apa yang kuketahui dan apa yang
ingin dia tahu tentang yang kuketahui sementara aku tidak menahu apa maksudnya.
Edan!
Tiba-tiba dari sepasang buah dada si Istri keluar orang-orang kecil seukuran
jari tengah. Sekitar sembilan orang kecil keluar dan seakan balon udara yang
sudah turun dan mengempis, buah dada itu menyusut dan lenyap. Kini aku tidak
harus memikirkannya. Yang selanjutnya adalah apa orang kecil itu?
Orang-orang
kecil memutariku, serentak bertanya seperti si Suami tanyakan tadi. Pikiranku
kacau melihat orang-orang kecil seakan aku adalah pusat ritual dari upacara
yang mereka adakan. Di pikiranku terlintas semua hal yang kusaksikan pagi ini
sebelum akhirnya bersantai di bawah pohon pada siang yang terik : seorang gadis
dengan lekuk tubuh yang bagus di kantor pos, seorang nenek dengan kebungkukan
yang mengibakan hati di tepi jalan, mobil-mobil, bayi dalam kulkas di sajak
Joko Pinurbo, botol-botol tak terpakai menuju penggilingan jadi biji plastik
hingga dua piring terbang melintas cepat di langit, sepasang suami-istri dengan
kejanggalan dan tempat di mana aku kini berada.
Aku
tidak tahu apapun.
***
“Mobil-mobil
yang kuamati! Itulah yang kuketahui.”
“Apa
yang kau ketahui?” masih pertanyaan yang sama si Suami terus mendesakku.
“Hanya
itu. Aku tidak tahu apapun.”
Dan
kehidupan terus berjalan. Di tempat penyekapan ini aku tidak tahu apapun.
Orang-orang kecil, si Suami dan si Istri dengan dada yang hilang. Terus-menerus
menyiksaku. Yang dilakukan orang-orang kecil masih tetap sama, tanpa berhenti, tanpa
jeda: memutariku seakan aku adalah pusat ritual. Apakah ini malam, ataukah
siang, aku tidak tahu. Yang kutahu hanyalah usaha untuk menjawab pertanyaan si
Suami tentang apa yang kuketahui.
Aku ingin memecahkan kepalaku saja.
Meledak dan tidak ada! Kurang ajar!
Orang-orang
kecil tak bertambah besar. Semenjak keluar dari buah dada semangka itu, mereka
hanya terus memutariku. Bentuk mereka sama semua. Dengan topi kerucut warna
hijau dan wajah suram plus senyum aneh seperti yang dipunyai si Suami. Mereka
memutariku terus-menerus. Seperti robot yang patuh pada perintah majikannya.
Semenjak aku disekap,si Istri tidak pernah berbicara hanya terus menyiksaku
secara brutal. Kelaparan, kehausan, rasa ingin kencing dan berak, tidak
kurasakan. Seperti sebuah keabadian atau adegan yang diulang-ulang tentang apa
yang telah kuketahui yang ingin si Suami ketahui. Aku tidak merasakan apapun
selain rasa sakit dan menyerah dari siksaan pertanyaan dan pemukulan yang
dilakukan.
***
Aku
terbangun dengan kepala pening dan sekujur tubuh sakit bukan main. Masih dengan
tali yang mengikat, aku tertinggal sendiri di ruang hampa ini. Orang kecil dan Suami-Istri
tadi barangkali meninggalkanku untuk
bernafas sejenak dan bersiap mendapat siksaan atas apa yang kuketahui padahal
semua jawabanku sudah jujur kukatakan pada mereka bahwa: aku tidak tahu apa-apa
tentang apa yang ingin mereka ketahui.
Kuurutkan
kejadian lampau yang kuamati. Entah sudah berapa lama aku disini. Seperti
manusia gua dengan bulu lebat di wajah, dan pakaian compang-camping, aku
mendekam dalam keabadian penyiksaan.
Mungkin
kata-kata mereka kepada penjaga yang kudengar -- “pembunuh” , “edan” ,
“kupecahkan kepalamu” – adalah yang kutahu akan kusampaikan, bahwa hipotesisku
adalah mereka ingin menuntut balas pada penjaga gedung tua yang kuamati itu.
Kematian apapun yang ingin mereka balaskan. Tapi mengapa mereka hanya
berteriak-teriak dengan patung penjaga gedung yang sudah terkelupas catnya itu,
aku tidak tahu. Sebuah patung berdiri tegak seolah menunggu dengan khidmat
gedung tua dari waktu ke waktu.
Atau
sepasang piring terbang yang melintas. Mereka ketinggalan. Mereka adalah alien?
Bumi mereka dihancurkan sekarang ingin menghancurkan bumiku? Lalu apa yang
harus kukatakan tentang piring terbang itu. Aku harus bersaksi bahwa aku
melihat pesawat mereka dan mereka menyuruhku untuk bungkam. Maka dengan senang
hati aku akan bungkam. Lepaskan aku. Aku akan diam selamanya seolah tidak
melihat apa-apa.
Kepalaku
digodam pertanyaan itu berkali-kali. Pusing dan denging memukul-mukul telingaku
seperti ingin menerobos gendang telinga dan mengoyak syaraf-syaraf di dalamnya.
“Apa yang kau ketahui? Apa yang kau ketahui?” Pertanyaan gila yang menyiksaku.
Dari
jauh lorong tempatku disiksa, gaung pertanyaan itu muncul lagi. Dan sosok yang
sudah akrab, datang menjemput korbannya.
“Apa
yang kau ketahui?” si Istri tanpa dada, membuatku takjub dengan kalimat pertama
yang diucapkannya kali ini.
Orang
kecil berhamburan dari arah lorong, ikut menanyaiku. Peluru-peluru pertanyaan
menembaki telinga dan otakku. Seperti hujan mengetuk kaca dengan intensitas
yang deras dan lama, pertanyaan tersebut mengucur tanpa jeda. Sampai aku tak
bisa menjawab. Aku terdiam, mendekam dalam sakit siksaan.
“Ini
pistol, dengan peluru pertanyaan yang harus kami tembakkan kepadamu.” Sambil
menunjuk mulutnya dengan jari tengah, seakan mengerti isi hatiku, si Suami menegaskan
untuk mengorek pikiranku tentang apa yang kuketahui.
Hujan
pertanyaan sudah berhenti. Kini mereka menungguku untuk menjawab.
Sambil
kesusahan aku menjawab pertanyaan mereka. “Kalian menyuruhku bungkam tentang
piring terbang yang mencari kalian melintas di langit. Kalian sepasang alien
dengan robot-robot mini. Itulah yang kutahu.”
“Bukan.Bukan
itu. Apa yang kau ketahui?” ulang lagi pertanyaan si Suami.
“Bukan?
Berarti pasti patung penjaga gedung yang membunuh sesuatu milik kalian? Itulah yang kutahu,” jawabku.
“Tidak.Tidak
itu.Apa yang kau ketahui?” kembali si Suami bertanya padaku.
Bukan
piring terbang ataupun penjaga gedung. Lantas apa lagi. Aku tidak tahu apapun.
“Kumohon lepaskan aku. Aku akan diam saja tentang kalian dan mahluk aneh
kalian.” Airmataku berlelehan, merengek seperti bocah yang selalu menangis dan
tidak dipedulikan siapapun.
“Tidak
bisa,” si Istri mulai berkata lagi.
***
Kehampaan
dan kegelapan bersatu dengan samar cahaya di ruang ini. Sendirian dan kian
menyusut untuk dilupakan, aku terus hidup dalam kesakitan.
Aku
hanya mampu meronta dan berteriak sekuat-kuatnya. Mungkin saja dengan berteriak
orang lain entah di mana sanggup mendengar teriakanku dan mulai mencari diriku.
Pemukulan terus mereka lakukan terhadap tubuh ini. Aku pingsan kembali
tersadar, pertanyaan yang sama; penyiksaan yang sama. Berulang-ulang dengan
tujuan mengorek informasi tentang apa yang kutahu. Sungguh padahal aku tak tahu
apapun.
“Apa
yang kau ketahui?” tanya si Suami, tersenyum licik dengan semangat ingin menyiksa
lagi.
Aku
membisu. Menatap balik dengan senyum licik menuju kematian yang tidak kutahu
kapan, tapi pasti datang ke sini. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar