- Sebuah Cerpen Gila
Seorang Alien yang pernah menangisi kekurangannya, di tahun ini berdagang nasi bungkus, sate usus, kopi begitu juga bisa kau sebut dengan obrolan gratis di atas tikar yang rela ditindas bokongmu. Dia adalah masa lalu dari kejayaan dunia sekolah menengah pertama yang selalu dibully setiap hari. Dengan tambahan sepeda motor aku berlari kencang menuju tak terbatas dan melampauinya. Tapi pernahkah khayalan tentang ketakterbatasan menjadi kenyataan? Hanya Murakami yang dapat menjawab.
Malam hari tak pernah terlihat seperti siang. Dia hanya sesuatu yang gelap dengan hawa dingin. Tapi seseorang pernah menyebutnya siang tatkala dia mengira malam adalah siang yang belum dilaluinya setelah ia mengira siang adalah pagi yang belum dilaluinya. Tuhan tertawa. Aku tertawa.
Kakiku berjalan menuju sebuah tempat di mana masa kecil pernah ada di sana. Barangkali bukan masa kecil tapi seperti hari kemarin di mana aku masih bocah dengan tamiya warna putih. Dengan dua tangan yang kosong, tiba-tiba sesuatu membuka dirinya langsung dari ingatanku. Tempat ini adalah pertama kalinya aku berpikir menjadi Megazord untuk menumpas monster. Bersama langit dan sebuah kuburan di mana orang mati tertanam dan tertawa tanpa bisa didengar orang yang masih hidup. Aku memasuki tahun-tahun lampau dan labirin menuntaskan perjalananku pada ingatan tentang sepeda bmx dan aksi standing.Ini kenangan. Aku berpikir tentang kebahagiaan. Dan Tuhan tertawa. Seseorang di lain tempat juga tertawa.
888
Sesampainya di rumah aku tidak merasa aku ini ada. Alien yang selalu disakiti itu tengah berjualan di warung sederhananya dekat sebuah lahan kosong di mana hantu-hantu tak bahagia sering menampakkan ujudnya pada orang yang lewat di sana.
“Apa yang ingin anda pesan?” kata Alien,mungkin.
Seseorang menjawab, ia ingin memesan kopi. Mungkin.
Ini apa? Tangan yang dua,kaki dan semua yang dua seperti dibagi jadi setengah dan yang setengahnya entah mengedar ke mana aku tidak tahu. Jendela yang terbuka hanya menampilkan bulan. Purnama sudah datang. Tapi aku apa?
“Kopinya sudah datang. Silakan diminum,”kata Alien,mungkin.
“Terima kasih,” kata seseorang.Mungkin.
666
Tidak siap dengan diriku,aku membanting diriku dengan keras. Sebetulnya bukan membanting, aku hanya mementalkan tubuhku di atas kasur empuk yang bisa memantulkanku ke atas. Lebih ke atas melampaui yang tak terbatas. Seperti seorang astronot gila yang tak mengira bahwa ia cuma mainan. Seperti Sasa. Lama kelamaan aku malah menguap seakan air laut yang terkena panas matahari, menjadi hujan di luar jendela kamarku. Aku yang setengah mengabur ke warung milik Alien, sedangkan aku setengahnya lagi menguap jadi hujan di luar rumah. Bulan November dan Guns n Roses bisa sekali-kali menjelma cengeng. Tubuh mana yang benar? Hanya kebenaran yang tahu. Dan Tuhan tertawa terbahak-bahak.
777
Ternyata tubuh yang benar-benar ada adalah pesawat terbang yang lari meninggalkan dunia. Ini masih jam sembilan malam. Dancuk! Apakah ada benar-benar tidak ada? Semua ini berarti tidak nyata. Namun aku dapat melihat senyum Alien mengembang ketika ia sedang mencuci dengan Sunlight gelas-gelas di warungnya. Dan bintang berkedip lebih terang padanya ibarat Naga mati yang naik ke surga mengerling pada Raja. Dahulu, kisah sedihnya seperti irama nestapa dari Sisilia ala film Godfather yang terus membunuh untuk kesedihan, tetapi kini tak nampak kepedihan itu. Kepedihan akibat selalu diolok-olok sebagai Alien karena kepalanya besar dengan sepasang mata bundar besar. Mahluk asing yang dikuasai piring terbangnya sendiri*. Orang-orang seperti aku yang merasa bahwa ketampanan adalah kekuasaan menjajah kaum jelek. Tetapi setelah kini mejadi pertapa dan jelek, Joker tahu, bahwa kekurangan memiliki kemampuan untuk melebihi sesuatu yang dikuasai seseorang untuk tampil sebagai kelebihan yang dimiliki;untuk menyaingi manusia lain yang memiliki kelebihan lain. Terbuktilah itu dengan perjalanan astralKu melihat wajah kegembiraan Alien yang tak pernah lagi menderita. Tuhan memberkahinya. Aku menyadarinya. Haha (Tepuk tangan dari masa lain,terdengar hingga ke gendang telingaku).
Hari memang malam. Langit seperti menyibak pintu yang kelam dan dalam. Dari suatu tempat seseorang berkata, “Wah!” Dan dari tempatku ini ada bayangan meniru apa yang dilakukan tuannya. Bayangan yang meniru apa yang kamu lakukan. WarungNya makin ramai, ada pesawat terbang cahaya kemilau di ketinggian mencari anak yang hilang dari kehidupan pramillenium yang tidak pernah disebut dalam sejarah. Sebuah Roh Absolut yang tidak bisa dipecah. Sementara Alien tersenyum,meracik kopi untuk pelanggannya. Lalu Tuhan turun, menyusup ke dalam topinya. -1901-
*) Larik dalam sajak berjudul Patung 77 Kilogram karya saya.
Malam hari tak pernah terlihat seperti siang. Dia hanya sesuatu yang gelap dengan hawa dingin. Tapi seseorang pernah menyebutnya siang tatkala dia mengira malam adalah siang yang belum dilaluinya setelah ia mengira siang adalah pagi yang belum dilaluinya. Tuhan tertawa. Aku tertawa.
Kakiku berjalan menuju sebuah tempat di mana masa kecil pernah ada di sana. Barangkali bukan masa kecil tapi seperti hari kemarin di mana aku masih bocah dengan tamiya warna putih. Dengan dua tangan yang kosong, tiba-tiba sesuatu membuka dirinya langsung dari ingatanku. Tempat ini adalah pertama kalinya aku berpikir menjadi Megazord untuk menumpas monster. Bersama langit dan sebuah kuburan di mana orang mati tertanam dan tertawa tanpa bisa didengar orang yang masih hidup. Aku memasuki tahun-tahun lampau dan labirin menuntaskan perjalananku pada ingatan tentang sepeda bmx dan aksi standing.Ini kenangan. Aku berpikir tentang kebahagiaan. Dan Tuhan tertawa. Seseorang di lain tempat juga tertawa.
888
Sesampainya di rumah aku tidak merasa aku ini ada. Alien yang selalu disakiti itu tengah berjualan di warung sederhananya dekat sebuah lahan kosong di mana hantu-hantu tak bahagia sering menampakkan ujudnya pada orang yang lewat di sana.
“Apa yang ingin anda pesan?” kata Alien,mungkin.
Seseorang menjawab, ia ingin memesan kopi. Mungkin.
Ini apa? Tangan yang dua,kaki dan semua yang dua seperti dibagi jadi setengah dan yang setengahnya entah mengedar ke mana aku tidak tahu. Jendela yang terbuka hanya menampilkan bulan. Purnama sudah datang. Tapi aku apa?
“Kopinya sudah datang. Silakan diminum,”kata Alien,mungkin.
“Terima kasih,” kata seseorang.Mungkin.
666
Tidak siap dengan diriku,aku membanting diriku dengan keras. Sebetulnya bukan membanting, aku hanya mementalkan tubuhku di atas kasur empuk yang bisa memantulkanku ke atas. Lebih ke atas melampaui yang tak terbatas. Seperti seorang astronot gila yang tak mengira bahwa ia cuma mainan. Seperti Sasa. Lama kelamaan aku malah menguap seakan air laut yang terkena panas matahari, menjadi hujan di luar jendela kamarku. Aku yang setengah mengabur ke warung milik Alien, sedangkan aku setengahnya lagi menguap jadi hujan di luar rumah. Bulan November dan Guns n Roses bisa sekali-kali menjelma cengeng. Tubuh mana yang benar? Hanya kebenaran yang tahu. Dan Tuhan tertawa terbahak-bahak.
777
Ternyata tubuh yang benar-benar ada adalah pesawat terbang yang lari meninggalkan dunia. Ini masih jam sembilan malam. Dancuk! Apakah ada benar-benar tidak ada? Semua ini berarti tidak nyata. Namun aku dapat melihat senyum Alien mengembang ketika ia sedang mencuci dengan Sunlight gelas-gelas di warungnya. Dan bintang berkedip lebih terang padanya ibarat Naga mati yang naik ke surga mengerling pada Raja. Dahulu, kisah sedihnya seperti irama nestapa dari Sisilia ala film Godfather yang terus membunuh untuk kesedihan, tetapi kini tak nampak kepedihan itu. Kepedihan akibat selalu diolok-olok sebagai Alien karena kepalanya besar dengan sepasang mata bundar besar. Mahluk asing yang dikuasai piring terbangnya sendiri*. Orang-orang seperti aku yang merasa bahwa ketampanan adalah kekuasaan menjajah kaum jelek. Tetapi setelah kini mejadi pertapa dan jelek, Joker tahu, bahwa kekurangan memiliki kemampuan untuk melebihi sesuatu yang dikuasai seseorang untuk tampil sebagai kelebihan yang dimiliki;untuk menyaingi manusia lain yang memiliki kelebihan lain. Terbuktilah itu dengan perjalanan astralKu melihat wajah kegembiraan Alien yang tak pernah lagi menderita. Tuhan memberkahinya. Aku menyadarinya. Haha (Tepuk tangan dari masa lain,terdengar hingga ke gendang telingaku).
Hari memang malam. Langit seperti menyibak pintu yang kelam dan dalam. Dari suatu tempat seseorang berkata, “Wah!” Dan dari tempatku ini ada bayangan meniru apa yang dilakukan tuannya. Bayangan yang meniru apa yang kamu lakukan. WarungNya makin ramai, ada pesawat terbang cahaya kemilau di ketinggian mencari anak yang hilang dari kehidupan pramillenium yang tidak pernah disebut dalam sejarah. Sebuah Roh Absolut yang tidak bisa dipecah. Sementara Alien tersenyum,meracik kopi untuk pelanggannya. Lalu Tuhan turun, menyusup ke dalam topinya. -1901-
*) Larik dalam sajak berjudul Patung 77 Kilogram karya saya.
