mbah darso sudah pulang.pulang memanggul dua ranting pohon di bahunya
langit meniru suara jumat kadangkala bergegas langkahku menyudahi.
76 tahun ada membuat hidupnya dipenuhi hening kedamaian,yang menukar
seluruh peperangan di luar sana.aku mendapati,desa yang engkau sunyikan
ditumbuhi pohon-pohon ketentraman,sungai mengalir sebagai waktu berdesir
memainkan batu-batu bongkah dalam mitos tentang seorang pembangkang.
di japan,di japan,semua yang kuletakkan terhampar jelas sebagai kata-kata
yang mengusir kesedihan melupa tuhan.yang menina kecemasan menghadapi
hari-hari kosong di dalam peta hangus kota itu.di sini aku bayangan menyusup
kesiur angin menyusun irama suasana;sungai perkusi menabuh batu-batu bisu.
di japan,segala yang kuingini sejenak terbangun dalam mimpi kusut di dadaku
aku sealun goyangan daun terhempas berat udara ramah desa engkau
memerankan episode biasa padaku;pada hidup mengeruk makna.
aku tergantung di sini sejak tidak ada lagi yang mesti kukeringkan sepanjang
jalan-jalan menanjak yang dahulu membanting diriku;koyak dan meringkuk
ia akan abadi di dalam foto itu.sebab yang fana cuma nafas di luar gambar
menyalin seberapa jauh usia bisa mengelupasi letak kita mematungkan diri.
pada gambar foto yang bercerita tentang ketergesaan menuju pulang.
pulang yang tak pernah sampai sebab hatiku sudah tertambat di sini
di japan,aku tinggalkan sajak untuk mengenang dunia tanpa keributan;
dunia dimana aku tak cukup jadi ada.aku bisa menjelma segalamu--japan
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar