-untuk kawan-kawan bahasa
rembulan membekas
pada mataku.akhir pekan penyair
orang-orang sibuk
menertawakan nasibnya.dan orang-orang
tak pernah selesai dari
kegembiraan yang direka.jalan panjang
menghantarku menujumu yang jauh yang lelah hujan deras
jatuh
di tapak jejakku melalui udara kotor malam minggu dan
truk-truk
tak bisa hidup karena cuaca sukar ditebak.aku
menujumu,dari waktu
bergerak lamban.kesepian adalah lagu gembira malam-malam
kami
sebab dengannya dapat meneruskan puisi yang gagal
menjaring lebat terangmu,metafora apa,mesti kami
sandingkan
bagi pecah perjalanan karena hujan.menggigil ditetak
selaksa runcing
aku menujumu.jiwa-jiwa yang sendiri menyusut ke dalam aku
langit hitam merintih kepada jalan kami yang patah dan
tertatih
mencelupkan airmatanya dalam dada kami dengan sekian
dingin
pecah-melebar,membasuh setiap degup demi degup detak
“aku harus memotret mereka berdua untuk kenangan yang
bakal dilupa”
roda-roda mesin dingin diterobos
angin.menujumu,mencangklong berat
beban ke pundak kami berempat:terjatuh ke dasar
gunung;mengangkat
ke puncak gunung.dan
kemenangan sepertinya sudah dekat
“datanglah wahai doa-doa agar memberkahi kami sampai
tujuan”
sepanjang kilometer pekat yang kau sambung dari lebat
cahyamu,
aku ingin menyimpannya dalam tahun-tahun depan.menyimpannya
seperti lebat hujan ditelan rekah tanah dengan wangi
basah.nanti
aku berusaha datang lagi berjalan beriringan
denganmu,dengan kami
rembulan membekas
pada mataku.akhir pekan penyair
orang-orang sibuk
menertawakan nasibnya.dan orang-orang
tak pernah selesai dari
kegembiraan yang direka….
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar