Sabtu, 15 Maret 2014

REMBULAN DI KILOMETER KAMI


-untuk kawan-kawan bahasa

rembulan membekas pada mataku.akhir pekan penyair
orang-orang sibuk menertawakan nasibnya.dan orang-orang
tak pernah selesai dari kegembiraan yang direka.jalan panjang
menghantarku menujumu yang jauh yang lelah hujan deras jatuh
di tapak jejakku melalui udara kotor malam minggu dan truk-truk
tak bisa hidup karena cuaca sukar ditebak.aku menujumu,dari waktu
bergerak lamban.kesepian adalah lagu gembira malam-malam kami
sebab dengannya dapat meneruskan puisi yang gagal

menjaring lebat terangmu,metafora apa,mesti kami sandingkan
bagi pecah perjalanan karena hujan.menggigil ditetak selaksa runcing
aku menujumu.jiwa-jiwa yang sendiri menyusut ke dalam aku
langit hitam merintih kepada jalan kami yang patah dan tertatih
mencelupkan airmatanya dalam dada kami dengan sekian dingin
pecah-melebar,membasuh setiap degup demi degup detak

“aku harus memotret mereka berdua untuk kenangan yang bakal dilupa”
roda-roda mesin dingin diterobos angin.menujumu,mencangklong berat
beban ke pundak kami berempat:terjatuh ke dasar gunung;mengangkat
 ke puncak gunung.dan kemenangan sepertinya sudah dekat
“datanglah wahai doa-doa agar memberkahi kami sampai tujuan”

sepanjang kilometer pekat yang kau sambung dari lebat cahyamu,
aku ingin menyimpannya dalam tahun-tahun depan.menyimpannya
seperti lebat hujan ditelan rekah tanah dengan wangi basah.nanti
aku berusaha datang lagi berjalan beriringan denganmu,dengan kami
rembulan membekas pada mataku.akhir pekan penyair
orang-orang sibuk menertawakan nasibnya.dan orang-orang
tak pernah selesai dari kegembiraan yang direka….

2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar