Camar Jonathan Livingston adalah sebuah novela yang ditulis Richard Bach tentang seekor burung camar yang memiliki cara terbang lain dari burung camar lazimnya.Ketika ia menemukan bahwa terbang itu tidak mesti mengepak sayap seperti burung lainnya dan hidup hanya untuk mencari makan,maka kebebasannya telah ia raih. Ia mulai melatih kemampuan terbangnya dan diasingkan oleh kelompoknya. Ia menemukan para 'camar terkucil' lain yang mempunyai kesenangan akan terbang seperti dirinya,dan ia bertemu Chiang,seekor camar super gesit yang melampaui batasan jarak dan waktu.
Jonathan Livingston adalah gambaran manusia yang lain dari manusia lainnya. Kebebasan ada,dan bisa kita raih dengan jalan yang telah kita tentukan. Hidup,meski terasing dan terkucil dari lainnya,tidaklah menyakitkan.Sebenarnya penderitaan yang terus dialami jika diresapi lebih dalam maka itulah kebahagiaan. Dan kisah sang camar bisa mengajari kita tentang mencari kebebasan yang selama ini kita idamkan. Tidak perlu meniru orang lain,jadilah diri sendiri yang apa adanya.
(bersambung)
Senin, 31 Maret 2014
Sabtu, 15 Maret 2014
REMBULAN DI KILOMETER KAMI
-untuk kawan-kawan bahasa
rembulan membekas
pada mataku.akhir pekan penyair
orang-orang sibuk
menertawakan nasibnya.dan orang-orang
tak pernah selesai dari
kegembiraan yang direka.jalan panjang
menghantarku menujumu yang jauh yang lelah hujan deras
jatuh
di tapak jejakku melalui udara kotor malam minggu dan
truk-truk
tak bisa hidup karena cuaca sukar ditebak.aku
menujumu,dari waktu
bergerak lamban.kesepian adalah lagu gembira malam-malam
kami
sebab dengannya dapat meneruskan puisi yang gagal
menjaring lebat terangmu,metafora apa,mesti kami
sandingkan
bagi pecah perjalanan karena hujan.menggigil ditetak
selaksa runcing
aku menujumu.jiwa-jiwa yang sendiri menyusut ke dalam aku
langit hitam merintih kepada jalan kami yang patah dan
tertatih
mencelupkan airmatanya dalam dada kami dengan sekian
dingin
pecah-melebar,membasuh setiap degup demi degup detak
“aku harus memotret mereka berdua untuk kenangan yang
bakal dilupa”
roda-roda mesin dingin diterobos
angin.menujumu,mencangklong berat
beban ke pundak kami berempat:terjatuh ke dasar
gunung;mengangkat
ke puncak gunung.dan
kemenangan sepertinya sudah dekat
“datanglah wahai doa-doa agar memberkahi kami sampai
tujuan”
sepanjang kilometer pekat yang kau sambung dari lebat
cahyamu,
aku ingin menyimpannya dalam tahun-tahun depan.menyimpannya
seperti lebat hujan ditelan rekah tanah dengan wangi
basah.nanti
aku berusaha datang lagi berjalan beriringan
denganmu,dengan kami
rembulan membekas
pada mataku.akhir pekan penyair
orang-orang sibuk
menertawakan nasibnya.dan orang-orang
tak pernah selesai dari
kegembiraan yang direka….
2014
Sabtu, 08 Maret 2014
DATANG DARI MASA LALU
aku sampai pada abad ini,menampakkan wahyu yang tersisa
mereka tidak mengerti,menjadi sendiri dapat mendengar
hening
seputih-putihnya.mereka tidak akan tahu arti ketiadaan
yang bakal menggebuk diri mereka nantinya
mereka cuma manusia,panik karena kesusahan sementara
seperti udara yang tetap hidup dari lampau
aku harus meneruskan sajak-sajak di bawah
yang mengalir pada arus sungai waktu
engkau yang belum mengetahuiku,takkan pernah lebih tahu
sebab diam begini,menyimpan jutaan abadi
sebagai aku
batu
Langganan:
Komentar (Atom)

