Senin, 29 Desember 2014

Keputusan

Sayang saya tidak bisa datang, terima kasih dan maaf saya sebesar-besarnya kepada Dewan Kesenian Jakarta dan seluruh juri (Martin Suryajaya, Zen Hae, Nukila Amal) yang memercayai naskah saya. :D

Selasa, 16 Desember 2014

ARABY



oleh: James Joyce


Jalan North Richmond, sebuah jalan buntu, adalah jalan lengang kecuali pada waktu Sekolah Christian Brothers memulangkan para siswanya. Sebuah rumah lantai dua tak berpenghuni berdiri di ujung jalan buntu, terpisah dari tetangga sekeliling di petak itu. Rumah- rumah lain di jalan itu, mencerminkan hidup yang layak di dalamnya, berhadapan satu sama lain dengan muka kecoklatan.

            Penyewa rumah kami terdahulu, seorang pendeta, menghembuskan napas terakhir di belakang ruang tamu. Udara , pengap dari rumah yang telah lama tertutup, mengambang di seluruh ruangan, dan di belakang tempat sampah dapur itu berserakan dengan kertas yang sudah lama tidak berguna. Di antaranya aku menemukan beberapa buku bersampul dengan halaman-halaman melengkung dan basah: The Abbot, oleh Walter Scott, The Devout Communnicant dan The Memoirs of Vidocq. Aku suka yang terakhir karena kertasnya kuning. Kebun belakang rumah ditumbuhi pohon apel dan semak-semak dan di bawah salah satunya aku menemukan pompa-sepeda berkarat. Dia telah menjadi pendeta yang sangat dermawan; dalam wasiatnya ia telah mewakafkan semua uangnya pada institusi dan perabotan rumah untuk adiknya.

            Ketika hari-hari pendek musim dingin datang, senja angslup sebelum kami menyelesaikan makan malam kami. Ketika kami bertemu di jalan, rumah-rumah nampak kian suram. Langit luas di atas kami adalah warna yang selalu berubah ungu dan ke langit itu lampu jalan memendarkan cahaya pucatnya. Udara dingin menyengat kami dan kami bermain sampai tubuh kami menghangat. Teriakan kami bergema di jalan lengang itu. Selama bermain kami melewati jalur berlumpur gelap di belakang rumah-rumah tempat kami berlari dari serangan suku kasar dari pondok,  menuju pintu belakang yang berada di  taman gelap berbau busuk meruap dari corong abu, ke kandang berbau tempat seorang kusir merapikan dan menyisir kuda sembari mengguncangkan suara dari tali kekang yang melengkung. Ketika kami kembali ke jalanan, cahaya dari jendela dapur telah menerangi komplek itu. Jika pamanku terlihat berbelok ke sudut jalan, kami bersembunyi di sepanjang bayangan rumah sampai kami melihatnya telah sampai di rumah dengan aman. Atau jika saudari Mangan yang keluar di depan pintu untuk memanggil saudaranya minum teh, kami cuma mengawasinya di bayan-bayang tempat kami sembunyi naik dan turun jalan. Kami menunggu untuk melihat apakah dia akan tinggal di luar atau masuk dan, jika dia tetap, kami meninggalkan persembunyian dan berjalan ke arah jenjang tangga rumah Mangan dengan lega. Dia sedang menunggu kami, sosoknya terpancar kala sinar dari pintu yang setengah terbuka. Saudaranya selalu menggodanya sebelum ia masuk ke rumah dan aku berdiri di jenjang tangga, menatapnya. Gaunnya berayun saat ia menggerakkan tubuhnya dan pita rambutnya menggelora perlahan-lahan.

            Setiap pagi aku berbaring di lantai di ruang tamu depan mengawasi pintunya. Kutarik gorden sampai menutupi dan tersisa satu inci dari bingkai sehingga aku tidak terlihat. Ketika dia keluar di depan pintu, hatiku melompat. Aku berlari ke beranda,kuambil buku-bukuku dan mengikutinya. Aku terus ikuti sosok cokelat itu selalu di mataku dan, ketika kami mendekat dalam titk tempat kami menyimpang, aku  mempercepat langkahku dan melewatinya. Hal ini sering terjadi setiap pagi. Aku tidak pernah berbicara dengannya, kecuali untuk kata-kata santai sedikit, namun namanya seperti panggilan kepada segenap  jiwaku.

Bayangnya menemaniku selalu bahkan di tempat-tempat yang paling tak berkesan romantis. Pada tiap Sabtu malam ketika bibiku pergi berdagang, aku harus pergi membawa beberapa hadiah. Kami berjalan melalui jalan-jalan benderang, berdesak-desakan dengan laki-laki mabuk dan wanita yang sedang tawar menawar, di tengah umpatan para buruh, litani melengking anak laki-laki penunggu toko yang berdiri menjaga buah-buahan, nyanyian penyanyi jalanan yang menyanyikan datang-semuanya- lagu O'Donovan Rossa, atau balada tentang masalah di tanah kelahirannya kami. Suara-suara ini berkumpul di satu sensasi hidup bagiku: Aku membayangkan bahwa aku menyunggi piala misa berdesakan melalui kerumunan musuh. Namanya muncul di bibirku pada saat doa-doa aneh dan pujian dilantunkan yang aku sendiri tidak mengerti. Mataku sering penuh air mata (aku tidak tahu mengapa) dan pada waktu bah dari hatiku sepertinya tercurahkan keluar dadaku. Aku pikirkan sedikit masa depan. Aku tidak tahu apakah aku akan pernah berbicara dengannya atau tidak, atau jika aku berbicara kepadanya, bagaimana aku bisa menceritakan kekaguman yang membingungkan ini. Tapi tubuhku seperti kecapi dan kata-katanya dan gerak tubuh yang seperti jari-jari yang memetiknya.

            Suatu malam aku pergi ke belakang ruang tamu di mana pendeta itu telah meninggal. Itu adalah malam yang gelap dan hujan menyisakan sunyi di rumah. Melalui salah satu panel yang rusak aku mendengar hujan luruh ke bumi, jarum sengitnya tak berhenti menghunjam ke permukaan yang basah. Beberapa lampu di kejauham atau jendela yang terang berpendar di hadapanku. Aku sangat bersyukur bahwa aku bisa sempat sedikit melihatnya. Semua inderaku tampaknya berkeinginan untuk menutupi diri mereka sendiri dan, merasa bahwa aku akan menyelinap dari mereka, aku menekan telapak tanganku bersama-sama sampai mereka gemetar, dan bergumam: "Oh cinta! Oh cinta! "Berkali-kali.

            Akhirnya dia berbicara kepadaku. Ketika dia mengatakan kata-kata pertama padaku aku sangat bingung sebab aku tidak tahu harus menjawab apa. Dia bertanya apakah aku akan pergi ke Araby. Aku lupa apakah aku menjawab ya atau tidak. Ini akan menjadi pasar malam yang berkesan, dia bilang dia ingin pergi.

"Dan mengapa kamu tak datang?" Aku bertanya.

Sementara ia berbicara ia memutar-mutar gelang perak di pergelangan tangannya. Dia tidak bisa pergi, katanya, karena akan ada retret minggu di biaranya. Saudaranya dan dua anak laki-laki lainnya yang berkelahi untuk topi mereka dan aku sendirian di jenjang tangga rumahnya. Dia memegang salah satu ujung pagar rumah, menundukkan kepalanya ke arahku. Cahaya dari lampu yang menentang pintu kami menangkap lipatan putih lehernya, menyala legam rambutnya yang berdiam di jenjang leher itu dan, jatuh, menerangi tangannya di ujung pagar rumah. Tangan itu jatuh di salah satu sisi gaunnya dan menyentuh putih rok dalamnya, hanya terlihat saat ia berdiri tenang.

"Malam itu pasti menyenangkan untukmu," katanya.
"Jika aku datang," kataku, "Aku akan membawakan sesuatu."

Betapa kebodohan tak terhitung mengganggu terjaga dan tidurku setelah malam itu! Aku berharap dapat memusnahkan kebosanan yang menyusup dalam hari-hariku. Aku mengabaikan tugas-tugas sekolah. Pada malam hari di kamar tidurku dan siang hari di dalam kelas bayang-bayangnya datang di antara lembar halaman yang sedang kubaca. Suku-suku kata Araby berdengung kepadaku melalui keheningan dimana jiwaku sedang menikmati dan menangkap pesona ketimuran di atas kepalaku. Aku meminta izin untuk pergi ke pasar malam pada Sabtu malam. Bibiku terkejut dan berharap itu bukan untuk urusan persekutuan Freemason. Aku menjawab beberapa pertanyaan di kelas. Aku melihat wajah guruku mulai dari ramah dan berubah jadi  tegas; dia berharap aku tidak mulai melamun. Aku tidak dapat memanggil pikiranku yang tengah mengembara kemana-mana. Aku hampir tidak sabar dengan tugas hidup yang serius, yang saat ini berdiri di antara raga dan keinginanku,yang tampak bagiku sekadar permainan anak-anak, permainan anak-anak yang menjenuhkan.

Pada hari Sabtu pagi aku mengingatkan pamanku bahwa aku ingin pergi ke pasar malam di malam hari. Dia rewel di samping kapstok baju, mencari sikat topi, dan menjawab pernyataanku:
"Ya, bocah, aku tahu."

Saat ia berada di ruang tamu aku tidak bisa masuk ke ruang depan dan berbaring di dekat jendela. Aku meninggalkan rumah dalam humor yang buruk dan berjalan perlahan menuju sekolah. Udara sangat buruk dan hatiku mulai was-was.

Ketika aku datang ke rumah untuk makan malam pamanku belum tiba ke rumah. Saat itu masih sangat pagi. Aku duduk menatap jam untuk beberapa waktu dan. ketika detak detiknya mulai menggangguku, aku meninggalkan ruangan. Aku menaiki tangga dan mencapai loteng. Ruangan yang dingin dan suram membebaskan aku melenggang sepuasnya dari ruang demi ruang sambil bernyanyi. Dari jendela depan aku melihat teman aku sedang bermain di jalanan. Pekikan mereka mengacaukan pikiran dan kemudian melemah hingga tidak jelas dan, bersandar dahiku pada kaca dingin, aku memandang rumah yang gelap di mana dia tinggal. Aku mungkin telah berdiri di sana selama satu jam, tanpa melihat apa-apa selain sosok kecokelatan yang dihadirkan oleh imajinasiku, tersentuh perlahan-lahan oleh cahaya lampu pada lipatan lehernya, pada tangan yang menyentuh pagar dan bagian bawah gaun itu.

Ketika aku datang turun lagi aku mendapati Nyonya Mercer duduk di dekat pediangan. Dia adalah seorang wanita tua cerewet, janda pemilik rumah, yang mengumpulkan perangko bekas untuk beberapa tujuan yang saleh. Aku harus menahan diri untuk gosip denganya di meja makan.Perjamuan telah ditunda lebih dari satu jam dan pamanku masih belum datang. Nyonya Mercer berdiri untuk pergi: ia menyesal bahwa dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, pada saat itu jam menunjukkan pukul delapan lebih dan dia tidak ingin terlambat karena udara malam yang buruk baginya. Ketika ia pergi aku mulai berjalan naik dan turun ruangan, mengepalkan tanganku. Bibiku mengatakan:

"Aku takut kau mungkin akan menunda menuju pasar malam pada malam ini."

Pukul sembilan aku mendengar pamanku membuka kunci di pintu depan. Aku mendengar dia berbicara sendiri dan kudengar goncangan tongkat gantungan jas saat menerima beban mantel. Aku dapat menafsirkan tanda-tanda ini. Ketika kami makan malam, aku memintanya untuk memberiku uang untuk pergi ke pasar malam. Namun paman lupa.

"Orang-orang saat ini sudah di kasur mereka dan setelah itu kini mereka tidur," katanya.

Aku tidak tersenyum. Bibiku mengatakan kepadanya penuh semangat:
"Tidak bisakah kau memberinya uang dan membiarkan dia pergi? Kau telah membuatnya cukup terlambat seperti itu. "

Pamanku mengatakan dia sangat menyesal bahwa dia lupa. Paman mengatakan ia percaya pada pepatah lama: "Terus belajar dan tanpa bermain membuat Jack jadi anak yang membosankan". Dia bertanya padaku ke mana aku akan pergi dan, ketika aku mengatakan kepadanya untuk kedua kalinya dia lalu bertanya padaku apakah aku tahu Salam Perpisahan gaya Arab pada Kudanya. Ketika aku meninggalkan dapur ia hendak memulai membaca bagian pembuka kutipan itu kepada bibiku.

Aku memegang uang koin dengan erat di tanganku sambil melangkah ke Buckingham Street menuju stasiun. Jalan-jalan penuh sesak dengan pembeli dan menyilaukan dengan gas asap yang membawa balik ingatanku pada tujuan perjalananku. Aku mengambil tempat duduk di gerbong kelas tiga dari kereta yang sepi. Setelah penundaan yang tak tertahankan kereta bergerak dari stasiun dengan perlahan. Kereta merayap maju di antara rumah-rumah yang rapuh dan melewati Sungai yang airnya berkelap-kelip. Di Westland Row Station kerumunan orang saling dorong di pintu kereta; tapi penjaga memindahkan mereka kembali, mengatakan bahwa itu adalah kereta khusus untuk pasar malam. Aku tetap sendirian di kereta yang lengang. Beberapa menit kemudian kereta melaju di atas jalanan kayu yang tiba-tiba. Aku melonggokkan kepalaku pada saat kereta melaju dan melihat sekilas jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh menit. Di depanku berdiri sebuah bangunan besar yang terpampang nama anehnya.

Aku tidak menemukan pintu masuk dengan harga karcis enam penny dan, takut pasar akan segera tutup, aku melewati dengan cepat melalui sebuah pintu putar, menyerahkan uang shilling kepada seorang pria yang tampak kumal. Aku menemukan diriku berada di aula besar yang setengah tingginya dipenuhi oleh galeri. Hampir semua kios ditutup dan sebagian besar dari lorong itu dalam kegelapan. Aku merasakan keheningan seperti itu melingkupi gereja setelah kebaktian. Aku berjalan ke tengah pasar malam dengan takut-takut. Beberapa orang berkumpul sekitar warung yang masih terbuka. Di hadapan tirai, di bawah kata-kata Cafe Chantant yang ditulis dalam lampu berwarna, dua orang sedang menghitung uang di sebuah talam. Aku mendengarkan jatuhan koinnya.

Mengingat dengan susah payahnya aku datang ke pasar malam lantas akupergi ke salah satu kios dan mengamati vas-vas porselen dan nampan the berbunga. Di pintu kios seorang wanita muda sedang berbicara dan tertawa dengan dua pria muda. Aku mengetahui aksen Inggris mereka dan mendengar samar-samar percakapan mereka.

"Oh, aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu!"

"Oh, tapi kau!"

"Oh, tapi aku tidak!"

"Apakah dia tidak mengatakan itu?"

"Ya. Aku mendengarnya. "

"Oh, itu. . . dusta! "

Ketika melihat aku wanita muda itu lalu datang dan bertanya apakah aku ingin membeli sesuatu. Nada suaranya tidak menggembirakan; ia tampaknya berbicara kepadaku karena dari tanggung jawab tugasnya. Aku melihat dengan kagum pada guci besar yang berdiri seperti penjaga Timur di kedua sisi pintu masuk gelap kios dan bergumam:

"Tidak, terima kasih."

Wanita muda itu mengubah posisi dari salah satu vas dan kembali ke dua pemuda tadi. Mereka mulai berbicara tentang subjek yang sama. Sekali atau dua kali wanita muda melirikku dari bahunya.

Aku berlama-lama di kiosnya, meskipun aku tahu keberadaanku di sini tidak berguna, untuk membuat minatku dalam barang-barangnya tampak lebih nyata. Lalu aku berbalik perlahan dan berjalan di tengah pasar malam. Aku membiarkan dua sen jatuh berjejalan di atas enam pence di sakuku. Aku mendengar panggilan suara dari satu ujung galeri yang lampunya padam. Bagian atas dari lorong itu sekarang benar-benar gelap.

Menatap ke dalam kegelapan aku melihat diriku sebagai makhluk didorong dan dicemooh oleh kesombongan; dan mata terbakar dengan penderitaan dan kemarahan.


diterjemahkan secara bebas oleh Bagus Dwi Hananto dari https://ebooks.adelaide.edu.au/j/joyce/james/j8d/chapter3.html

Rabu, 06 Agustus 2014

KANAK WAKTU


musim hujan pulang ke surga.bumi bagai bocah melupa layangan lepas ke angin
setelah ibu menyuruhnya kembali.burung-burung jiwamu terbentang luas di tengah padi
sawah melepas cahaya mengombak di alunannya.ibumu menyuruh kita pulang
pulang mengayuh kaki-kaki ke arah pintu dimana rindu dipersiapkan bagi dua pipimu:
cium itu seawet penantiannya yang seolah betah di kursi goyang lalu menjadi nenek.

setiap wajah yang alur kecantikannya menebar aroma sendiri.ini blossom bajumu disetrika
dengan kebaikan ibu yang tak pernah pudar.mengertilah,seorang keras kepala tidak bisa
dipecahkan kecuali ia memecah dirinya sejenak untuk percaya pada kemauan.musim hujan
pulang ke surga.bumi bagai bocah lupa layangan lepas ke angin dan menangis akan percuma.

datang kembali ke rumahmu. kita sadar,waktu mengulang pertama kali buah jambu terjatuh ke kepalaku
anak-anak masih mencari ikan-ikan mabuk air kencing mereka. seorang kakek terbiasa memandang
langit biru di tampuk matanya. kau mencintai kami sebagai sahabat yang masih terus nakal meski dinasihati. kau mencintai hujan yang pulang ke surga dan bumi bagai bocah lupa layangan lepas ke angin
lepas ke angin dan menangis….


2014

Jumat, 01 Agustus 2014

TITIK MULA PUISI


Tuhan adalah Kata
Maka jadilah

2014

TELEPON SALAH SAMBUNG

TELEPON SALAH SAMBUNG

dari jarak jerusalem ataukah kota keparat yang berisik engkau menelponku? ribuan pengemis turun ke jalan setiap hari seperti ribuan telepon yang salah diangkat telinga.suara wanita dan pria tua menelpon di subuh buta. ada apa? sekian. dulu hanya ada dada. mengirim sinyal pada dua dada lainnya. simpang siur melambai melayangkan kabar lalu ke telingaku-telingamu orang-orang salah menjadi perbincangan yang salah

aku sudah tidak aku sejak bunyi kabar yang bertanya siapa namaku. aku adalah aku bukan orang lain. tetapi engkau bertanya aku yang lain meski aku menjawab aku adalah aku. ini kesalahan. aku harus selesai dan pulang. dada….

2014

Senin, 21 Juli 2014

KEBAHAGIAAN TERLETAK PADA JIWA ALIEN

- Sebuah Cerpen Gila


Seorang Alien yang pernah menangisi kekurangannya, di tahun ini berdagang nasi bungkus, sate usus, kopi begitu juga bisa kau sebut dengan obrolan gratis di atas tikar yang rela ditindas bokongmu. Dia adalah masa lalu dari kejayaan dunia sekolah menengah pertama yang selalu dibully setiap hari. Dengan tambahan sepeda motor aku berlari kencang menuju tak terbatas dan melampauinya. Tapi pernahkah khayalan tentang ketakterbatasan menjadi kenyataan? Hanya Murakami yang dapat menjawab.

Malam hari tak pernah terlihat seperti siang. Dia hanya sesuatu yang gelap dengan hawa dingin. Tapi seseorang pernah menyebutnya siang tatkala dia mengira malam adalah siang yang belum dilaluinya setelah ia mengira siang adalah pagi yang belum dilaluinya. Tuhan tertawa. Aku tertawa.

Kakiku berjalan menuju sebuah tempat di mana masa kecil pernah ada di sana. Barangkali bukan masa kecil tapi seperti hari kemarin di mana aku masih bocah dengan tamiya warna putih. Dengan dua tangan yang kosong, tiba-tiba sesuatu membuka dirinya langsung dari ingatanku. Tempat ini adalah pertama kalinya aku berpikir menjadi Megazord untuk menumpas monster. Bersama langit dan sebuah kuburan di mana orang mati tertanam dan tertawa tanpa bisa didengar orang yang masih hidup. Aku memasuki tahun-tahun lampau dan labirin menuntaskan perjalananku pada ingatan tentang sepeda bmx dan aksi standing.Ini kenangan. Aku berpikir tentang kebahagiaan. Dan Tuhan tertawa. Seseorang di lain tempat juga tertawa.

888

Sesampainya di rumah aku tidak merasa aku ini ada. Alien yang selalu disakiti itu tengah berjualan di warung sederhananya dekat sebuah lahan kosong di mana hantu-hantu tak bahagia sering menampakkan ujudnya pada orang yang lewat di sana.

“Apa yang ingin anda pesan?” kata Alien,mungkin.

Seseorang menjawab, ia ingin memesan kopi. Mungkin.

Ini apa? Tangan yang dua,kaki dan semua yang dua seperti dibagi jadi setengah dan yang setengahnya entah mengedar ke mana aku tidak tahu. Jendela yang terbuka hanya menampilkan bulan. Purnama sudah datang. Tapi aku apa?

“Kopinya sudah datang. Silakan diminum,”kata Alien,mungkin.

“Terima kasih,” kata seseorang.Mungkin.

666

Tidak siap dengan diriku,aku membanting diriku dengan keras. Sebetulnya bukan membanting, aku hanya mementalkan tubuhku di atas kasur empuk yang bisa memantulkanku ke atas. Lebih ke atas melampaui yang tak terbatas. Seperti seorang astronot gila yang tak mengira bahwa ia cuma mainan. Seperti Sasa.  Lama kelamaan aku malah menguap seakan air laut yang terkena panas matahari, menjadi hujan di luar jendela kamarku. Aku yang setengah mengabur ke warung milik Alien, sedangkan aku setengahnya lagi menguap jadi hujan di luar rumah. Bulan November dan Guns n Roses bisa sekali-kali menjelma cengeng. Tubuh mana yang benar? Hanya kebenaran yang tahu. Dan Tuhan tertawa terbahak-bahak.

777

Ternyata tubuh yang benar-benar ada adalah pesawat terbang yang lari meninggalkan dunia. Ini masih jam sembilan malam. Dancuk! Apakah ada benar-benar tidak ada? Semua ini berarti tidak nyata. Namun aku dapat melihat senyum Alien mengembang ketika ia sedang mencuci dengan Sunlight gelas-gelas di warungnya. Dan bintang berkedip lebih terang padanya ibarat Naga mati yang naik ke surga mengerling pada Raja. Dahulu, kisah sedihnya seperti irama nestapa dari Sisilia ala film Godfather yang terus membunuh untuk kesedihan, tetapi kini tak nampak kepedihan itu. Kepedihan akibat selalu diolok-olok sebagai Alien karena kepalanya besar dengan sepasang mata bundar besar. Mahluk asing yang dikuasai piring terbangnya sendiri*. Orang-orang seperti aku yang merasa bahwa ketampanan adalah kekuasaan menjajah kaum jelek. Tetapi setelah kini mejadi pertapa dan jelek, Joker tahu, bahwa kekurangan memiliki kemampuan untuk melebihi sesuatu yang dikuasai seseorang untuk tampil sebagai kelebihan yang dimiliki;untuk menyaingi manusia lain yang memiliki kelebihan lain. Terbuktilah itu dengan perjalanan astralKu melihat wajah kegembiraan Alien yang tak pernah lagi menderita. Tuhan memberkahinya. Aku menyadarinya. Haha (Tepuk tangan dari masa lain,terdengar hingga ke gendang telingaku).

Hari memang malam. Langit seperti menyibak pintu yang kelam dan dalam. Dari suatu tempat seseorang berkata, “Wah!” Dan dari tempatku ini ada bayangan meniru apa yang dilakukan tuannya. Bayangan yang meniru apa yang kamu lakukan. WarungNya makin ramai, ada pesawat terbang cahaya kemilau di ketinggian mencari anak yang hilang dari kehidupan pramillenium yang tidak pernah disebut dalam sejarah. Sebuah Roh Absolut yang tidak bisa dipecah. Sementara Alien tersenyum,meracik kopi untuk pelanggannya. Lalu Tuhan turun, menyusup ke dalam topinya. -1901-

*) Larik dalam sajak berjudul Patung 77 Kilogram karya saya.

Kamis, 03 Juli 2014

Pertanyaan yang Abadi


-sebuah cerpen asal-asalan-
ide cerita : Haruki Murakami,George Orwell
oleh : Bagus Burham

Sepasang suami-istri setengah baya tampak sedang ngomel-ngomel di depan penjaga usang di gerbang gedung tua yang sepertinya sudah akan runtuh. Dari jauh, kata-kata yang kutangkap ada ; “pembunuh” , “edan” , “kupecahkan kepalamu!”.

Dari sini, mereka seperti segumpal noda yang melekat di jalan. Aku tengah bersantai sambil mencatat karakter mobil-mobil yang lewat di jalan. Yah, kesukaan yang aneh; mencatat mobil-mobil yang lewat di jalan. Semisal mobil sedan itu warnanya hitam, sepasang ban depan dengan pelek mengkilap dan terkesan pemiliknya menjaga betul mobil itu sampai terlihat bagus dan nyaman.

Suami-istri itu bergerak menjauhi gerbang, sekarang malah menuju tempatku bersantai. Semakin dekat, mereka tampak seperti orang-orang yang sungguh harus diberi perhatian. Wajah sang Suami memang tampan,tapi ada sebuah lubang hitam besar di atas dahinya. Seakan itu black hole di angkasa. Sementara sang Istri memang biasa saja tapi yang ganjil dari tubuh kurusnya adalah sepasang buah dada sebesar semangka,yang terkesan ia memikul berat yang tak sesuai dengan daya tubuhnya.

Angin membawa debu dan terik menyengat. Untungnya sebatang pohon besar tempatku bersandar menaungi tubuhku dari panas. Siang yang sungguh panas. Pasangan tadi sudah sampai di depanku. Tiba-tiba berkata, “Kau sudah berapa lama di sini?” kata si Suami.

Aku hanya menjawab, barusan saja. Orang itu terus menatapku. “Apa yang kau lihat?” ia bertanya lagi. Aku bilang bukan apa-apa. Sebenarnya memang benar, aku melihat dada istrinya yang tidak proporsional dengan tubuh kecilnya.

Suara keras mobil saling menubruk terjadi selang beberapa menit kami berdiam tanpa kata. Di depan kami, angkutan warna putih dengan sedan. Para penumpang angkutan turun dan pindah lain angkutan. Pengendara sedan itu marah-marah dengan kata-kata awut-awutan yang menyerambul dari mulutnya. Pengemudi angkutan hanya terdiam. Dan di langit sepasang piring terbang lewat sebegitu cepatnya sampai sekedip mata sudah lenyap.

Aku tidak beranjak dari tempat santaiku. Begitu pula Suami-Istri yang masih saja berdiri di depanku. Si Istri dari tadi hanya diam dan si Suami dengan mata jelalatan terus mengamatiku. Edan! Apa yang ia inginkan?
***
Aku tersadar. Tempat ini gelap dan hanya terdiri dari beberapa jendela dan kipas angin menggantung. Tanganku terikat dan mulutku diplester. Aku menjerit sekuat-kuatnya tetapi hanya terdengar gumaman saja. Dari kegelapan di depanku, suara derap kaki orang lebih dari satu semakin mendekat. Kurang ajar! Ternyata sepasang Suami-Istri tadi. Dengan senyum aneh tersungging di wajah si Suami, ia menenteng kerahku erat-erat. “Katakan, apa yang kamu ketahui?” katanya. Perasaanku bingung. Apa yang kuketahui? Aku tidak tahu. Aku tadi hanya duduk bersantai di bawah sebuah pohon, mengamati mobil yang lewat, dan menyaksikan kecelakaan. Apa yang kuketahui?

Ia melepas penutup mulutku. Sekali lagi bertanya tentang apa yang kuketahui. Aku menjawab tidak tahu apa-apa. Sekali lagi ia bertanya apa yang kuketahui. “Aku tidak tahu apa yang kau maksud dengan apa yang kuketahui.” 

“Apa yang kau ketahui? Jelas, katakan!” pertanyaan si Suami terus membentur telingaku.

“Aku tidak tahu apapun. Aku tadi hanya bersantai di bawah pohon. Kumohon lepaskan aku…”

Dengan pentung hitam seperti yang dimiliki satpam-satpam, si Suami memukuliku lantas bertanya seperti tadi. Aku tidak bisa menjawab. Apa yang kuketahui dan apa yang ingin dia tahu tentang yang kuketahui sementara aku tidak menahu apa maksudnya.

Edan! Tiba-tiba dari sepasang buah dada si Istri keluar orang-orang kecil seukuran jari tengah. Sekitar sembilan orang kecil keluar dan seakan balon udara yang sudah turun dan mengempis, buah dada itu menyusut dan lenyap. Kini aku tidak harus memikirkannya. Yang selanjutnya adalah apa orang kecil itu?

Orang-orang kecil memutariku, serentak bertanya seperti si Suami tanyakan tadi. Pikiranku kacau melihat orang-orang kecil seakan aku adalah pusat ritual dari upacara yang mereka adakan. Di pikiranku terlintas semua hal yang kusaksikan pagi ini sebelum akhirnya bersantai di bawah pohon pada siang yang terik : seorang gadis dengan lekuk tubuh yang bagus di kantor pos, seorang nenek dengan kebungkukan yang mengibakan hati di tepi jalan, mobil-mobil, bayi dalam kulkas di sajak Joko Pinurbo, botol-botol tak terpakai menuju penggilingan jadi biji plastik hingga dua piring terbang melintas cepat di langit, sepasang suami-istri dengan kejanggalan dan tempat di mana aku kini berada.

Aku tidak tahu apapun.
***
“Mobil-mobil yang kuamati! Itulah yang kuketahui.”

“Apa yang kau ketahui?” masih pertanyaan yang sama si Suami terus mendesakku.

“Hanya itu. Aku tidak tahu apapun.”

Dan kehidupan terus berjalan. Di tempat penyekapan ini aku tidak tahu apapun. Orang-orang kecil, si Suami dan si Istri dengan dada yang hilang. Terus-menerus menyiksaku. Yang dilakukan orang-orang kecil masih tetap sama, tanpa berhenti, tanpa jeda: memutariku seakan aku adalah pusat ritual. Apakah ini malam, ataukah siang, aku tidak tahu. Yang kutahu hanyalah usaha untuk menjawab pertanyaan si Suami tentang apa yang kuketahui.

Aku ingin memecahkan kepalaku saja. Meledak dan tidak ada! Kurang ajar!

Orang-orang kecil tak bertambah besar. Semenjak keluar dari buah dada semangka itu, mereka hanya terus memutariku. Bentuk mereka sama semua. Dengan topi kerucut warna hijau dan wajah suram plus senyum aneh seperti yang dipunyai si Suami. Mereka memutariku terus-menerus. Seperti robot yang patuh pada perintah majikannya. Semenjak aku disekap,si Istri tidak pernah berbicara hanya terus menyiksaku secara brutal. Kelaparan, kehausan, rasa ingin kencing dan berak, tidak kurasakan. Seperti sebuah keabadian atau adegan yang diulang-ulang tentang apa yang telah kuketahui yang ingin si Suami ketahui. Aku tidak merasakan apapun selain rasa sakit dan menyerah dari siksaan pertanyaan dan pemukulan yang dilakukan.

***

Aku terbangun dengan kepala pening dan sekujur tubuh sakit bukan main. Masih dengan tali yang mengikat, aku tertinggal sendiri di ruang hampa ini. Orang kecil dan Suami-Istri tadi barangkali  meninggalkanku untuk bernafas sejenak dan bersiap mendapat siksaan atas apa yang kuketahui padahal semua jawabanku sudah jujur kukatakan pada mereka bahwa: aku tidak tahu apa-apa tentang apa yang ingin mereka ketahui.

Kuurutkan kejadian lampau yang kuamati. Entah sudah berapa lama aku disini. Seperti manusia gua dengan bulu lebat di wajah, dan pakaian compang-camping, aku mendekam dalam keabadian penyiksaan.

Mungkin kata-kata mereka kepada penjaga yang kudengar -- “pembunuh” , “edan” , “kupecahkan kepalamu” – adalah yang kutahu akan kusampaikan, bahwa hipotesisku adalah mereka ingin menuntut balas pada penjaga gedung tua yang kuamati itu. Kematian apapun yang ingin mereka balaskan. Tapi mengapa mereka hanya berteriak-teriak dengan patung penjaga gedung yang sudah terkelupas catnya itu, aku tidak tahu. Sebuah patung berdiri tegak seolah menunggu dengan khidmat gedung tua dari waktu ke waktu.

Atau sepasang piring terbang yang melintas. Mereka ketinggalan. Mereka adalah alien? Bumi mereka dihancurkan sekarang ingin menghancurkan bumiku? Lalu apa yang harus kukatakan tentang piring terbang itu. Aku harus bersaksi bahwa aku melihat pesawat mereka dan mereka menyuruhku untuk bungkam. Maka dengan senang hati aku akan bungkam. Lepaskan aku. Aku akan diam selamanya seolah tidak melihat apa-apa.

Kepalaku digodam pertanyaan itu berkali-kali. Pusing dan denging memukul-mukul telingaku seperti ingin menerobos gendang telinga dan mengoyak syaraf-syaraf di dalamnya. “Apa yang kau ketahui? Apa yang kau ketahui?” Pertanyaan gila yang menyiksaku.

Dari jauh lorong tempatku disiksa, gaung pertanyaan itu muncul lagi. Dan sosok yang sudah akrab, datang menjemput korbannya.

“Apa yang kau ketahui?” si Istri tanpa dada, membuatku takjub dengan kalimat pertama yang diucapkannya kali ini.

Orang kecil berhamburan dari arah lorong, ikut menanyaiku. Peluru-peluru pertanyaan menembaki telinga dan otakku. Seperti hujan mengetuk kaca dengan intensitas yang deras dan lama, pertanyaan tersebut mengucur tanpa jeda. Sampai aku tak bisa menjawab. Aku terdiam, mendekam dalam sakit siksaan.

“Ini pistol, dengan peluru pertanyaan yang harus kami tembakkan kepadamu.” Sambil menunjuk mulutnya dengan jari tengah, seakan mengerti isi hatiku, si Suami menegaskan untuk mengorek pikiranku tentang apa yang kuketahui.

Hujan pertanyaan sudah berhenti. Kini mereka menungguku untuk menjawab.

Sambil kesusahan aku menjawab pertanyaan mereka. “Kalian menyuruhku bungkam tentang piring terbang yang mencari kalian melintas di langit. Kalian sepasang alien dengan robot-robot mini. Itulah yang kutahu.”

“Bukan.Bukan itu. Apa yang kau ketahui?” ulang lagi pertanyaan si Suami.

“Bukan? Berarti pasti patung penjaga gedung yang membunuh sesuatu milik kalian? Itulah yang kutahu,” jawabku.

“Tidak.Tidak itu.Apa yang kau ketahui?” kembali si Suami bertanya padaku.

Bukan piring terbang ataupun penjaga gedung. Lantas apa lagi. Aku tidak tahu apapun. “Kumohon lepaskan aku. Aku akan diam saja tentang kalian dan mahluk aneh kalian.” Airmataku berlelehan, merengek seperti bocah yang selalu menangis dan tidak dipedulikan siapapun.

“Tidak bisa,” si Istri mulai berkata lagi. 

***

Kehampaan dan kegelapan bersatu dengan samar cahaya di ruang ini. Sendirian dan kian menyusut untuk dilupakan, aku terus hidup dalam kesakitan.

Aku hanya mampu meronta dan berteriak sekuat-kuatnya. Mungkin saja dengan berteriak orang lain entah di mana sanggup mendengar teriakanku dan mulai mencari diriku. Pemukulan terus mereka lakukan terhadap tubuh ini. Aku pingsan kembali tersadar, pertanyaan yang sama; penyiksaan yang sama. Berulang-ulang dengan tujuan mengorek informasi tentang apa yang kutahu. Sungguh padahal aku tak tahu apapun.
“Apa yang kau ketahui?” tanya si Suami, tersenyum licik dengan semangat ingin menyiksa lagi.
Aku membisu. Menatap balik dengan senyum licik menuju kematian yang tidak kutahu kapan, tapi pasti datang ke sini. []

Cerita Tentang Esensi yang Mendahului Eksistensi

-catatan selepas baca


            Di sebuah hari malas seperti hari-hari saya lainnya,tangan saya mencari sebuah buku lama di rak untuk nostalgia membaca. Buku-buku yang saya cintai melebihi kecintaan saya pada diri,terus memanggil nama saya dan waktu terus berputar seperti ingin membunuh jaman. Kemudian pilihan itu jatuh kepada sebuah buku warna kuning dengan sampul bergambar Joker.Buku berjudul "Misteri Soliter" karya Jostein Gaarder. Hal yang membuat saya menyukai kisah ini bukan saja dari takdir yang dijalani bocah kecil dari Norwegia yang mencari Bundanya di dunia mode Yunani,tetapi lebih kepada seorang pelaut tua yang tersesat di pulau ajaib dan menjadi "Tuhan" bagi kartu reminya sendiri. 52 kartu yang awalnya diangan-angankan sebagai manusia,kini berubah jadi hidup senyata manusia. Dalam sebuah kesepian,pikiran bisa terfokus pada khayalan. Dan kesepian Frode membuat kartu-kartunya hidup.Esensi (sebuah idea) yang melahirkan eksistensi mahluk dalam cerita karangan Gaarder tersebut adalah metafora dari (kerja) Tuhan.

            Hal tersebut adalah kebalikan dari diktum sang filsuf raksasa-Jean Paul Sartre. Ya,memang ini cuma sekadar novel surreal yang menceritakan tentang petualangan bocah kecil di sepanjang Alpen dalam perjalanan mencari Bundanya,tetapi lebih dari itu Gaarder mencoba mengira-ngira apa yang dilakukan oleh Tuhan(bagi mereka yang percaya) sebelum menciptakan kita dengan perumpamaan si pelaut tua yang mencintai gagasan bahwa kartu-kartu reminya hidup di dalam alam ideanya. Konklusinya adalah bahwa Tuhan berpikir sebelum menciptakan kita. Mungkin penciptaan itu ia renungkan dalam tempo sesingkat-singkatnya sebelum ia berkata, "jadilah!" Seperti kasus Frode yang mencintai angan-angan bahwa kartu-kartu reminya hidup dan menemani kesepiannya di pulau ajaib dimana ia tidak bisa menembus keluar pulau.Barangkali Tuhan gembira bahwa sesuatu yang bermula dari gagasan(kata) kini menjadi mahluk yang bernama manusia.

           Apakah Tuhan pernah terkejut ketika ciptaannya bisa menyusun dan memberontak kepadaNya. Dan itu diumpamakan Gaarder sebagai sosok Joker. Joker yang bukan dari golongan Wajik,Sekop,Hati ataupun Keriting,memilih memberontak agar abadi. Joker adalah seorang eksistensialis. Etre en soi yang kini mengobjekkan dunia menjelma etre pour soi dalam bahasa Sartre. Joker yang sebelumnya merupakan sesuatu atau mahluk yang diobjekkan Tuhannya(Frode) memilih memberontak dan membunuh tuannya dalam artian 'Tuhan telah mati." Memilih bebas sebebas-bebasnya. Dan inti dari eksistensialisme adalah mengenyahkan mauvaise foi (keyakinan yang buruk) dalam artian percaya pada Tuhan. Manusia total bebas tak mungkin berpegangan dengan keyakinan kecuali dirinya sendiri ;begitulah Sartre pahamkan pada kita. Di buku "Misteri Soliter" sang eksistensialis Joker memang memberontak untuk meraih dunianya sendiri dari Tuhannya yaitu Frode dengan impian ingin melihat dunia luar(dunia di luar pulau ajaib dimana Frode jadi pencipta dan kartu-kartu dihidupkan). Ia tidak mempunyai keyakinan akan Penguasa di atasnya karena ia sendiri hidup mengada dan barangkali eksistensinya mendahului esensi dari diri itu sendiri. Ia sudah berada bagi dirinya meski sebelumnya ia tunduk pada Tuhannya.
   
               

Minggu, 22 Juni 2014

Warok

dimuat pula di : Radar Surabaya, 24 Agustus 2014

Poe telah hilang selama satu bulan ini. Mungkin karena kesalahanku yang sangat kesal dia berak di atas naskah cerpen garapanku. Aku marah, menendangi perutnya dan menyuruh dia pergi. Selepas itu, ia tidak lagi terlihat sampai hari ini. Bau ikan asinpun tidak lagi menggoda kucing-kucing di sekitar lingkungan ini termasuk Poe. Aku telah memancingnya buat keluar tapi tidak berhasil. Aku kira kejadian yang menimpaku hanya dialami oleh diriku saja, tetapi beberapa orang penyayang kucing di lingkungan ini juga mencari peliharaannya yang entah pergi kemana. Kucing-kucing menghilang begitu saja tanpa petunjuk apapun. Meninggalkan tahi di mana-mana. Para pemelihara kucing terus-menerus mencari sebab ingin melakukan sesuatu seperti diriku; minta maaf pada kucing. Tobias, seorang gendut yang bekerja sebagai koki restoran kumuh di pusat kota, juga mencari seekor Toyger mahal miliknya. Kucing itu, katanya, ia gebuk dengan bonggol kayu besar setelah berak di atas piring penuh pasta. Padahal, katanya, pasta itu baru saja dia buat untuk makan malam romantis bersama kenalannya di balkon apartemen. Tahinya menutupi pasta seakan itu sausnya; meleleh tersebab mencret. Setelah kegebuk, kucingnya terkejut lalu bergegas keluar dari rumah seperti halnya Poe. Kisah sama juga dialami si banci Mince saat kucingnya berak di atas kotak riasnya. Kami benar-benar ingin minta maaf pada kucing kami. Dicari berhari-hari tidak juga ketemu. Rasa putus asa menyeruak dalam dada kami. Kucing-kucing sudah tidak ada lagi.
           
***
            Petang masuk ke celah-celah dinding. Aku mandi. Mengganti bajuku lantas bersiap menuju masjid. Di hari tuaku begini, hanya mengisi waktu dengan berdoa akan membikin hatiku tentram. Sembari melangitkan doa-doaku, pikiranku kadang mengembara mencari keberadaan Poe. Di mana kucingku Poe? Semoga Tuhan selalu melindunginya.
            Azan Magrib sudah lama selesai dan ibadah kami pun telah dijalankan. Orang-orang kembali ke kediaman mereka masing-masing dan hanya tersisa aku di dalam masjid. Beberapa saat lamanya aku berdoa dan setelah rampung, lantas aku merapikan sajadah masjid dan memasukkannya kembali dalam almari yang terletak di sebelah kiri. Kipas angin kumatikan. Aku melangkah menuju pintu karena dari jendela masjid terlihat rumahku didatangi dua tamu. Dua orang pemudaluar kota yang telah jadi karibku.Ketika sampai di pintu masjid, aku terkejut menemukan dua tikus banyak polah itu. Tikus warok besar,berjumpalitan saling beradu di atas lantai kusam di teras masjid. Ketika kuhampiri, mereka tidak takut sama sekali. Mereka tegak, berhenti bermain dan seolah menghadang diriku. Aku menghindari mereka. Bergegas pulang ke rumah yang letaknya hanya lima meter dari masjid. Aku telah sampai. Jika saja ada Poe, batinku, mungkin mereka akan dimakan dengan mudahnya.

            Dua pemuda yang aku temui itu seperti datang dari masa lalu. Mereka mencintai sastra seperti aku. Menulis sajak dan cerita pendek; menghidupi kenangan lama dengan menuangkannya ke dalam secarik kertas. Seperti merekam yang telah lalu agar diingat lagi oleh seseorang yang mungkin membacanya.Yang satu berbadan gemuk, tinggi tapi dengan rambut yang telah menipis begitu parah dalam masa tua yang tiba sangat cepat, walaupun ia masih muda. Satunya lagi seorang pemuda kurus suka bercanda. Memakai penutup kepala warna hitam yang membungkus setengah kepalannya sebagai ciri khas seorang pengarang nyentrik. Mereka berdua tergabung dalam sebuah komunitas sastra di kotanya. Yang berambut tipis akan mengembalikan buku Don Quixote yang dipinjam selama tiga bulan belakangan. Aku berkali-kali mendesaknya buat mengembalikan buku itu. Kusuguhkan kopi hitam pada mereka. Kami berbincang seputar Zen dan para pemikir rasional yang menganggap Tuhan sebagai boneka khayal bikinan manusia. Lalu si kurus bertanya padaku, di mana kucingku itu? Aku menjawab bahwa Poe telah hilang hampir dua bulan lamanya. Aku sudah menyerah. Dia pasti mendapat tuan yang baru, kataku. Kami diam beberapa saat. Lalu pemuda-pemuda itu menghibur diriku dan melanjutkan percakapan mengenai Zen dan aku menceritakan bagaimana Xu Yun, guru Zen terakhir, berhasil lolos dari racun atau kehebatan-kehebatan lainnya pada masa revolusi kebudayaan yang diterapkan Mao Zedong di China dahulu. Tapi selama kami berbincang, pikiranku mengambang dalam kenangan terhadap Poe kucingku. Kucing hitam legam yang kecil itu aku temukan pertama kali di pasar, saat aku belanja ikan bandeng untuk makan siangku. Seekor kucing tertatih-tatih mengeong kepada siapapun yang ditemuinya di jalan dagangan ikan yang digelar para pedagang pasar itu.Pada saat aku berhadapan dengannya, ia mengeong dan mengelus kakiku dengan bulu-bulunya itu. Aku iba kemudian kubawalah kucing tersebut pulang ke rumah. Kunamai Poe. Walaupun tak sebagus milik Tobias atau kucing yang selalu bersih kepunyaan Mince, Poe tetap kusayang seperti dia adalah anakku. Sebab aku sendirian di rumah, maka Poe bisa jadi teman yang akrab untukku. Menulis cerita atau sajak ditemani seekor kucing dan bercangkir-cangkir kopi, akan sangat membantu diriku. Kami melewati dua tahun bersama hingga kini dia menghilang karena kemarahan sesaatku. Aku menyesal.

            Aku berhenti membayangkan Poe di sela-sela perbincangan kami saat pemuda yang gemuk dan berambut tipis meminta ijin padaku, bertanya di mana letak WC karena dia sudah tidak tahan lagi ingin berak. Dengan penerangan berupa obor sebab hari berubah malam, aku tunjukkan kepadanya di mana letak WC. Ia kubekali seember air yang menurutku akan cukup buat satu kali proses buang air besarnya. Aku kembali menemui si pemuda kurus dan meninggalkan yang gemuk dengan urusannya.

            Kami melanjutkan perbincangan. Beberapa menit kemudian si gemuk berambut tipis kembali dengan muka lega dan keriangan yang ringan; bergabung dalam perbincangan kami. Setelah tiga jam aku meladeni mereka bicara, mereka memutuskan pulang ke kotanya. Tinggal sepi aku tanpa siapapun. Aku kembali ke masjid buat melaksanakan ibadah Isya’. Saat aku berjalan menuju masjid, mataku mengarah pada sesosok kejanggalan yang tergeletak di atas tanah tepatnya di pojok teras masjid. Saat aku dekati, ternyata benda janggal itu adalah sebuah kuping kucing! Kuping belang-belang warna oranye yang diselingi warna hitam. Aku takut ingin lari pulang. Tapi tak bisa pergi karena sepasang mata hitam yang begitu kecil, menyembul dari puing bangunan sisa masjid lama yang diterangi lampu masjid di teras. Kini bertambah lagi jadi dua pasang mata hitam yang seolah samar menyediakan cahaya di pupilnya. Seakan itu senter mungil. Mereka menunjukkan dirinya di depanku. Dua warok itu! Aku ingin lari tapi aku tertegun. Barangkali merekalah yang menghabisi Toyger peliharaan Tobias. Dancuk!

            Memang tikus yang amat besar. Barangkali kucing-kucing di sini telah dihabisi oleh mereka. Aku seakan melihat dua sepatu dinas milik tentara yang bergerak mendekatiku. Begitu legam dan besar.Mereka yang tadi main-main di sini, seakan setiap menit mereka tumbuh. Rasanya tadi mereka tidak seukuran dengan yang sekarang. Seakan setelah memamah seekor kucing, tubuh mereka jadi seukuran kucing. Aku tak bisa ke mana pergi. Hanya berdoa agar keselamatan Poe dijamin oleh Tuhan. Aku mendongak ke langit, menyaksikan bintang-bintang bertaburan. Malam yang dingin. Seperti sungai digeret melintang, sebuah alur awan bergerak dalam kegelapan tapi aku saksikan perlahan awan-awan berjalan. Dan dua cakram bercahaya terbang sangat cepat di langit. Menyisakan suatu nostalgia yang hangat di dadaku.
           
***
            Kejadian kemarin malam mengesani diriku. Kuping yang tersisa kubuang ke tong sampah.Dan aku tidak memberitahukan hal itu kepada Tobias sebab mungkin kucing yang dimakan tikus-tikus itu bukan miliknya. Tapi hatiku meyakini bahwa sisa kuping itu merupakan bagian dari kucing peliharaan Tobias. Walaupun kami telah menyerah mencari. Dan tikus-tikus itu sesekali muncul berjumpalitan di depan masjid saat aku keluar dari pintu masjid atau ketika malam jadi larut.

            Aku selalu berharap suatu ketika Poe akan kembali ke rumah ini. Sambil tetap waspada dengan perilaku tikus-tikus itu, aku menjaga harapanku akan kepulangan yang kurindukan. Malam demi malam bergantian susul menyusul ke ujung bulan. Bulan bergantian menyisahkan satu lagi ke tahun yang baru. Poe tidak pernah terlihat lagi. Orang-orang sudah melupakan kucing dan kini beralih memelihara landak mini yang sedangnge-trend. Hanya bayangan dari lubuk hatiku akan Poe yang masih tersisa. Kadang, di suatu malam bayangan kucing itu datang mengendap-endap di tembok-tembok dan seolah mendekatiku. Aku mengelus yang tidak ada. Khayalanku keluar dari pikiran dan mengejutkanku. Tikus-tikus raksasa masih nyaman tinggal di antara puing bekas masjid lama di depan teras masjid; menjaga kemenangannya akan penindasan ras tikus di taring kucing selama ini. Poe telah mati, mungkin, di gigi tikus-tikus itu. Tikus-tikus yang doyan makan kabel listrik dan kayu almari.

2014