Senin, 18 Juni 2012

Sajak Kocar-kacir




aku mengkredo kakiku
mendogma mataku
menyampingkan agamaku
menepikan tuhanku
menebus pahala-pahala
dengan seribu tinta dosa
kolong jembatan nyiur nyanyinya
berkutat cedera
pemulung dan sajakku juga sama
nyalang minta-minta
berderit seibarat tikus comberan.
bahwa tangisan adalah mani
tyetesan-tetesanya melahirkan parodi
haha-hehe-hoho
yaho! koboi krempeng masuk desa
bawanya pistol gedebok
celananya kulit kijang.
langkahnya menginjak
tahi-tahi ayam.

haha-hehe-hoho             
cerita pesisir impian
dihancurkan dalam semalam
bak pasir bangunan
cetakan anak-anak pantai
menyimeng cinta dalam pusaran duka
danur tubuhnya di tenggelam laut
puisi itu berbau anyir
matanya picek,menyingir pagi
angin sendalu merapat bagiku.
hati bertalu-talu
rindu.

perawan nunggu
di pasar desa.
koboi gedebok masuk kota
mensajakkan a-i-u-e-o
lontong balap lontong bakso
koboi kalap langsung show
merampas puisiku
dan berpacu terbirit jingkrak turangga
nyala merah kesumba
matanya membawa pandang matahari-matahari.
jemparing melanglang panahnya ke angkasa
bakal menancap ke pantat-pantat angsa
di kolam dan telaga warna.

koboi pergi ke barat
dan matahari senja        
di ikuti menjebloskan aku ke prodeo
atas plagiat kata-kata.
dan perawan nangis di perkosa.
aku mengkredo botol bir
melarungnya bersama sajak sempal
menuju ke laut.
surat buli-buli.
membawanya ke samudra entah nama.
menemu lumba-lumba
menemu ikan pari
menemu hiu
menemu aurora
di kutub-kutub tanpa cinta.

perawan nangis pulang ke emaknya.
koboi krempeng terlanjur pergi bersama senja.
aku terlanjur hanyut dengan botolnya.
terkacau angin buritan
kapal-kapal berpenuh kerak lumutan.
disini cendawan baru tumbuh
di laut cendawan keras serupa karang.
ombak menggulingkan botolku.
menggulingkan aku.
aku hanyut.
botolku melaut!
pusaran badai menganga,
memperlihatkan dubur besar di tengah laut.
terhisap?
berpulang?

haha-hehe-hoho
nyatanya aku pingsan
di pulau antah berantah.
dan menemu rum-rum
bertuliskan:1970
wah! aku tak jadi hanyut
bertemu koboi gendut
menyiurkan lagu hawai cinta.
rumya rasa istimewa.
‘bagaimana kabar perawan yang diperkosa?’
‘mana kutahu,apa yang kaubicara orang idiot?’

oi,kutemukan fonten yang derasnya seukur bulir jeruk.
di sebalik tanaman-tanaman pohon kelapa.
koboi gendut kutinggal di pesisir.
fonten buatan michelangelo!
yang penuh malaikat-malaikat telanjang.
ku gosok kelaminya biar kempling.
laksana aku berbudaya.
kuminum air minimnya.
bagaimana kembali ke desa?
tanya irama,tanya bingungku.

aku mengkredo kakiku
mendogma mataku
menyampingkan agama
menepikan tuhan
menebus pahala-pahala
dengan tinta seribu dosa.
mau kemana,
kaki yang berjamur ini?
mau menjamah apa,
tangan lanskap kutil ini?
kulihat cermin riaknya laut.
wew!aku bercambang lebat
seperti pemikir yang samadi di gunung.
tapiperutku selalu  menggerutu
tiada makanan selain rumput.
kulitku berubah hitam lekat.
‘apa ini?
aku sekarat?
tahi-
aku tak mau mati’.

berjalan berputar-putar pulau.
bertemu koboi gendut
yang tak lagi gendut.
bersandar ia di bawah pohon kelapa
ukulele penuh jaring laba-laba.
dan badanya penuh lalat hijau.
rumnya tergeletak begitu saja.
tengkoraknya terlihat.
tulang-tulangnya jelas pandang.

sadrah pada tuhan?
haha-hehe-hoho
kenapa mati dipermainkan?
sendiri sakhsi
menjemu ajal.
keram kesemutan
patak badanku.
letak sajakku
di buli lautan.

berjalan memutar-mutar
kusapa nisan seorang padri
namanya:st.peter pluck.
aku berbaring di sampingnya
menggaruk-garuk selangkangan
yang penuh jamur belang-belang.

aku lantas berjalan ke sisi lain pulau
ku temukan nisan ulama
:syech abdul karim
aku bersimpuh berkidung untuknya
disamping nisannya,
kuberi rum yang kucuri
dari bangkai koboi gendut
sambil kugaruk-garuk sepasang zakarku.

haus!haus!
mata perih
hidung beleber ingus
kaki kurus
kubelah kelapa
kujadikan sayak
buat ngambil air di fonten.

saban sore setiap senja
kutunggu kapal,getek,perahu luarbiasa
yang mampu melihat pulau ini dan aku.
kau bisa nemu garuda,antelop,serigala.
tapi tak satupun mampu berkata
dan bergerak.
sayang,disini hanya aku seorang
dan bangkai-bangkai manusia.
haha-hehe-hoho
yaho! biarlah masih ada segudang rum di tanah
tergeletak
menggeletar inginku
yang menyontak-sontak
kaget bukan main
melihat tahun-tahun timbunnya
1970,1960,1950,
kegenapan tanpa perdamaian.

mengulum rum
menegaknya.
jlegek-jlegek-jlegek…
segarkan dahaga.
kini harus kulatih tangan kidal
karena aku terkena kusta.
kugerakkan untuk berak
kugerakkan buat makan ikan
kugerakkan untuk kencing
meski terciprat-ciprat.

aku memurba,
sebab menemu saung goa.
kudiami dalam renyai terik tanpa jeda
kudinginkan kulit legamku.
menanti kapal dan terompet kematian.
serumpun parsi diatas goa,
kumakan dalam kegamangan agama.
tuhan mau menolongku atau menarikku?
kini parangan membabat hidungku
gatal kepedihan menunggu salamku.
kubur-kubur suci terlewati,lalu siapa yang ngubur?
dan,koboi gendut terlalu basi untuk kukubur
kutunggu hingga dagingnya terlepas semua.
bangkai-bangkai mahluk,pasim sana-sini.
ada yang garuda,ada serigala,ada manusia cebol.
manusia cebol?
manusia langka.
tinggal aku menanti mati
karena sajak botol yang kukejar dahulu.

ini ikabku?
karena terlalu percaya kata
jadinya merana
jadinya terlunta-lunta
jadinya terkurung di pulau tak bernama
jadinya kurus raga
jadinya jadi bangka
jadinya jadi gila!?
ikhwanpun tiada mencari jejakku,
apa mau diburu?
hilangku dilaut bertahun-tahun lalu
mengejar sajak botol cinta.
sebab perawan
yang mungkin sudah tua dan bersuami
dulu diperkosa.
koboi kerisit hilang.
koboi gendut mati.
weleh,weleh…
yang tersisa disini cuma tahi.

ritual menggoda
kepundan bernyala liur magma
di pulau ini aktif lagi itu suara.
aku harus berdiam di saung goa
untuk sekian lama.
lokananta bertambun-tambun
berdendang seputar ritual
tak jelas.
heya,heyo!
awas lahar cair menderas.
aku diam dalam keras.

tett…tet...tet...!
itu suara
bunyi bel kapal
menitih kepulau
dan singgah sebentar.
aku berkacak:he…ha! he…ha!
kapal datang menjemput paktua ini
berpuluh tahun menanti.
hanya makan parsi.
rumya habis
fonten tak mengucur lagi
-malaikat buatan angelo-
sudah berkarat tertutup kemaluanya.
koboi gendut sudah kukubur
kunamai,’sang wenang’.

ayo kesini kapten!
bawa daku
kembali ke desa
dan bertemu orang-orang penerus.
manusia baru.
cucu-cucuku.

kukenakan tuksedo milik kapten
ku-diselamatkan
ku tak menemu lagi sajakku
ku sikat gigiku
yang bergudal puluhan tahun
kuobati kustaku
yang mengrogot tangan kananku,
kubersihkan kelaminku
dari jamur dan gatal memburu kutu
kusisir jembutku,kupomade rambutku
kucukur cambangku.
kuberpesta diatas kapal pesiar
menemu rum tahun-tahun awal
2000 an,millenium
rasanya enak.

haha-hehe-hoho
yaho!
kutemukan lagi perawan
dengan gaun pesta
warna biru dara
dadanya setengah terbaca.
ku berdansa dengannya
bersama lagu paktua disana.
‘what a wonderful world…’
sexophone,piano dan suara vokalnya
gemakan seluruh kapal
begitu angin membuaiku.
aku terselamatkan…
selamat tinggal koboi gendut!
selamat tinggal st.peter pluck!
selamat tinggal syech abdul karim!
selamat tinggal sajak botolku.
aku kini di bahtera
nuh yang baru.
titanik yang baru.

tak lama setelah dansa,
aku terpingsan
dan bangun di alam entah apa.
ada anggur,
ada khamar,
ada kolam susu,
bidadari sebanyak
kuhitung 72.
aku leha-leha.
merasakan.
benar ini surga?

2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar