aku
mengkredo kakiku
mendogma
mataku
menyampingkan
agamaku
menepikan
tuhanku
menebus
pahala-pahala
dengan
seribu tinta dosa
kolong
jembatan nyiur nyanyinya
berkutat
cedera
pemulung
dan sajakku juga sama
nyalang
minta-minta
berderit
seibarat tikus comberan.
bahwa
tangisan adalah mani
tyetesan-tetesanya
melahirkan parodi
haha-hehe-hoho
yaho!
koboi krempeng masuk desa
bawanya
pistol gedebok
celananya
kulit kijang.
langkahnya
menginjak
tahi-tahi
ayam.
haha-hehe-hoho
cerita
pesisir impian
dihancurkan
dalam semalam
bak
pasir bangunan
cetakan
anak-anak pantai
menyimeng
cinta dalam pusaran duka
danur
tubuhnya di tenggelam laut
puisi
itu berbau anyir
matanya
picek,menyingir pagi
angin
sendalu merapat bagiku.
hati
bertalu-talu
rindu.
perawan
nunggu
di
pasar desa.
koboi
gedebok masuk kota
mensajakkan
a-i-u-e-o
lontong
balap lontong bakso
koboi
kalap langsung show
merampas
puisiku
dan
berpacu terbirit jingkrak turangga
nyala
merah kesumba
matanya
membawa pandang matahari-matahari.
jemparing
melanglang panahnya ke angkasa
bakal
menancap ke pantat-pantat angsa
di
kolam dan telaga warna.
koboi
pergi ke barat
dan
matahari senja
di
ikuti menjebloskan aku ke prodeo
atas
plagiat kata-kata.
dan
perawan nangis di perkosa.
aku
mengkredo botol bir
melarungnya
bersama sajak sempal
menuju
ke laut.
surat
buli-buli.
membawanya
ke samudra entah nama.
menemu
lumba-lumba
menemu
ikan pari
menemu
hiu
menemu
aurora
di
kutub-kutub tanpa cinta.
perawan
nangis pulang ke emaknya.
koboi
krempeng terlanjur pergi bersama senja.
aku
terlanjur hanyut dengan botolnya.
terkacau
angin buritan
kapal-kapal
berpenuh kerak lumutan.
disini
cendawan baru tumbuh
di
laut cendawan keras serupa karang.
ombak
menggulingkan botolku.
menggulingkan
aku.
aku
hanyut.
botolku
melaut!
pusaran
badai menganga,
memperlihatkan
dubur besar di tengah laut.
terhisap?
berpulang?
haha-hehe-hoho
nyatanya
aku pingsan
di
pulau antah berantah.
dan
menemu rum-rum
bertuliskan:1970
wah!
aku tak jadi hanyut
bertemu
koboi gendut
menyiurkan
lagu hawai cinta.
rumya
rasa istimewa.
‘bagaimana
kabar perawan yang diperkosa?’
‘mana
kutahu,apa yang kaubicara orang idiot?’
oi,kutemukan
fonten yang derasnya seukur bulir jeruk.
di
sebalik tanaman-tanaman pohon kelapa.
koboi
gendut kutinggal di pesisir.
fonten
buatan michelangelo!
yang
penuh malaikat-malaikat telanjang.
ku
gosok kelaminya biar kempling.
laksana
aku berbudaya.
kuminum
air minimnya.
bagaimana
kembali ke desa?
tanya
irama,tanya bingungku.
aku
mengkredo kakiku
mendogma
mataku
menyampingkan
agama
menepikan
tuhan
menebus
pahala-pahala
dengan
tinta seribu dosa.
mau
kemana,
kaki
yang berjamur ini?
mau
menjamah apa,
tangan
lanskap kutil ini?
kulihat
cermin riaknya laut.
wew!aku
bercambang lebat
seperti
pemikir yang samadi di gunung.
tapiperutku
selalu menggerutu
tiada
makanan selain rumput.
kulitku
berubah hitam lekat.
‘apa
ini?
aku
sekarat?
tahi-
aku
tak mau mati’.
berjalan
berputar-putar pulau.
bertemu
koboi gendut
yang
tak lagi gendut.
bersandar
ia di bawah pohon kelapa
ukulele
penuh jaring laba-laba.
dan
badanya penuh lalat hijau.
rumnya
tergeletak begitu saja.
tengkoraknya
terlihat.
tulang-tulangnya
jelas pandang.
sadrah
pada tuhan?
haha-hehe-hoho
kenapa
mati dipermainkan?
sendiri
sakhsi
menjemu
ajal.
keram
kesemutan
patak
badanku.
letak
sajakku
di
buli lautan.
berjalan
memutar-mutar
kusapa
nisan seorang padri
namanya:st.peter
pluck.
aku
berbaring di sampingnya
menggaruk-garuk
selangkangan
yang
penuh jamur belang-belang.
aku
lantas berjalan ke sisi lain pulau
ku
temukan nisan ulama
:syech
abdul karim
aku
bersimpuh berkidung untuknya
disamping
nisannya,
kuberi
rum yang kucuri
dari
bangkai koboi gendut
sambil
kugaruk-garuk sepasang zakarku.
haus!haus!
mata
perih
hidung
beleber ingus
kaki
kurus
kubelah
kelapa
kujadikan
sayak
buat
ngambil air di fonten.
saban
sore setiap senja
kutunggu
kapal,getek,perahu luarbiasa
yang
mampu melihat pulau ini dan aku.
kau
bisa nemu garuda,antelop,serigala.
tapi
tak satupun mampu berkata
dan
bergerak.
sayang,disini
hanya aku seorang
dan
bangkai-bangkai manusia.
haha-hehe-hoho
yaho!
biarlah masih ada segudang rum di tanah
tergeletak
menggeletar
inginku
yang
menyontak-sontak
kaget
bukan main
melihat
tahun-tahun timbunnya
1970,1960,1950,
kegenapan
tanpa perdamaian.
mengulum
rum
menegaknya.
jlegek-jlegek-jlegek…
segarkan
dahaga.
kini
harus kulatih tangan kidal
karena
aku terkena kusta.
kugerakkan
untuk berak
kugerakkan
buat makan ikan
kugerakkan
untuk kencing
meski
terciprat-ciprat.
aku
memurba,
sebab
menemu saung goa.
kudiami
dalam renyai terik tanpa jeda
kudinginkan
kulit legamku.
menanti
kapal dan terompet kematian.
serumpun
parsi diatas goa,
kumakan
dalam kegamangan agama.
tuhan
mau menolongku atau menarikku?
kini
parangan membabat hidungku
gatal
kepedihan menunggu salamku.
kubur-kubur
suci terlewati,lalu siapa yang ngubur?
dan,koboi
gendut terlalu basi untuk kukubur
kutunggu
hingga dagingnya terlepas semua.
bangkai-bangkai
mahluk,pasim sana-sini.
ada
yang garuda,ada serigala,ada manusia cebol.
manusia
cebol?
manusia
langka.
tinggal
aku menanti mati
karena
sajak botol yang kukejar dahulu.
ini
ikabku?
karena
terlalu percaya kata
jadinya
merana
jadinya
terlunta-lunta
jadinya
terkurung di pulau tak bernama
jadinya
kurus raga
jadinya
jadi bangka
jadinya
jadi gila!?
ikhwanpun
tiada mencari jejakku,
apa
mau diburu?
hilangku
dilaut bertahun-tahun lalu
mengejar
sajak botol cinta.
sebab
perawan
yang
mungkin sudah tua dan bersuami
dulu
diperkosa.
koboi
kerisit hilang.
koboi
gendut mati.
weleh,weleh…
yang
tersisa disini cuma tahi.
ritual
menggoda
kepundan
bernyala liur magma
di
pulau ini aktif lagi itu suara.
aku
harus berdiam di saung goa
untuk
sekian lama.
lokananta
bertambun-tambun
berdendang
seputar ritual
tak
jelas.
heya,heyo!
awas
lahar cair menderas.
aku
diam dalam keras.
tett…tet...tet...!
itu
suara
bunyi
bel kapal
menitih
kepulau
dan
singgah sebentar.
aku
berkacak:he…ha! he…ha!
kapal
datang menjemput paktua ini
berpuluh
tahun menanti.
hanya
makan parsi.
rumya
habis
fonten
tak mengucur lagi
-malaikat
buatan angelo-
sudah
berkarat tertutup kemaluanya.
koboi
gendut sudah kukubur
kunamai,’sang
wenang’.
ayo
kesini kapten!
bawa
daku
kembali
ke desa
dan
bertemu orang-orang penerus.
manusia
baru.
cucu-cucuku.
kukenakan
tuksedo milik kapten
ku-diselamatkan
ku
tak menemu lagi sajakku
ku
sikat gigiku
yang
bergudal puluhan tahun
kuobati
kustaku
yang
mengrogot tangan kananku,
kubersihkan
kelaminku
dari
jamur dan gatal memburu kutu
kusisir
jembutku,kupomade rambutku
kucukur
cambangku.
kuberpesta
diatas kapal pesiar
menemu
rum tahun-tahun awal
2000
an,millenium
rasanya
enak.
haha-hehe-hoho
yaho!
kutemukan
lagi perawan
dengan
gaun pesta
warna
biru dara
dadanya
setengah terbaca.
ku
berdansa dengannya
bersama
lagu paktua disana.
‘what
a wonderful world…’
sexophone,piano
dan suara vokalnya
gemakan
seluruh kapal
begitu
angin membuaiku.
aku
terselamatkan…
selamat
tinggal koboi gendut!
selamat
tinggal st.peter pluck!
selamat
tinggal syech abdul karim!
selamat
tinggal sajak botolku.
aku
kini di bahtera
nuh
yang baru.
titanik
yang baru.
tak
lama setelah dansa,
aku
terpingsan
dan
bangun di alam entah apa.
ada
anggur,
ada
khamar,
ada
kolam susu,
bidadari
sebanyak
kuhitung
72.
aku
leha-leha.
merasakan.
benar
ini surga?
2012