Maka ketika jarum jam menunjuk angka tiga
Disaat kokok ayam yang baru pertama
Sebuah warung pinggir jalan telah dipadati pelangganya,
Mulai yang muda hingga tua disini juga kutemukan suami istri
sedang menanti anak pertama,menunggu makanan dengan sabarnya
keduanya saling bercanda dan bermain manja.
Seorang wanita dengan parfum yang menyengat pun memasuki ruang dan memenuhi udara dengan harumnya.
Para pekerja sebentar singgah sembari memakirkan truktruk mereka
Nenek renta itu handal meracik resep,tangan yang sudah tidak cekatan
Namun masakanya selalu dinanti dan terasa enak di kala hari belum fajar.
Dengan anaknya yang meramu teh hangat bagi kami.
Ayahku mengepulkan lisongnya dan disambut para orang tua
Bagai kereta yang melaju mengeluarkan uap,kami menanti di peronperon lapar.
Menatap jamjam yang belum kunjung bergerak masih jam 3
1 2 kami para penghela lambung terdiam setelah makanan datang
3 4 setelah subuh menjelang kami pulang
5 6 dengan langkah tertunduk sedikit mengantuk membawa besek nasi dan daging
Angin yang tadi tenang kini bekerja penuh seluruh
Subuh datang,adzan terkumandang.Kini saatku menutup mata dan membawa sebagian tilastilas makanan yang masih terasa di lidah.
Hanya tidur dan membeku
Tiada peluh tiada tangis
Kehidupan kecilku yang terdiri dari warung dan tidur
Jam telah menjadi setengah 5
Kini saatnya orang tua bekerja di pasar membawa sayuran dan dagangan
Sementara kami para pemuda,masih tertidur nyaman diatas tilam
Kami adalah angkatan pemalas
Kami tak mengerti arti peluh dan pengorbanan
Kami hanya mengerti arti kebusukan cinta dan euphoria berlebihan
Dengan menitih motor pada malam minggu menghabiskan berliterliter bensin
Kami membuat para orangtua resah menanti kapan kami pulang.
Kami adalah kelelawar
Tidur di siang bolong dan kelayapan di malam hari
Kami mengerjab lampulampu kota dan sebuku cerita cinta tanpa komitmen
Kami telah mati sebelum dilahirkan
Aku selalu akan kembali pada masakan nenek renta itu,membawa sebakul nasi dengan langkah lambatnya ke hadapan para pelanggan
Aku akan selalu menuju anak nenek renta itu,membuat teh ternikmat di kala hari menjelang fajar
Namun aku takkan kembali menjadi bayi
Yang tak berhurahura dan tak mengecewakan para orangtua
Langkahnya selalu jenaka dan dibangga
Karena aku,kau dan mereka.Kita semua adalah penjahat orangtua
Menghancurkan cita dan harap lugunya.
Aku tak bisa kembali pada mereka
Ceritaku hanya berkutat pada sebatang.Berbatangbatang lisong.
Kami memungutnya dari jalanjalan ketidakpastian,jalan kebimbangan dan jalan kehancuran harapan.
Lilin pengharapan sudah usang dan mati sediakala
Disaat senja meletupkan pelurupeluru kegelapan,dan bintang berkemah di bulan
Cahaya sudah menjauhi kita,kawan
Aku,kurcaci dalam sebuah cermin
Aku kerdil,aku jelek dan aku pembunuh
Apel yang sedianya untuk putri salju telah diberikan padaku
Paranoia adalah sekilo ganja yang kuhisap berharihari di kamar dengan seonggok minuman gelap.anyir dan getir.
Jalanjalan kita terus berwarna walau aku buta akan warna
Ketika jingga pada senja dihamburkan hitam pada malam
Fajar akan membuka tabir hitam dan berdatanganlah biru di langit
Terus saja kita bergembira dan euphoria maya.
Ketika kita tua ,kita akan dibalas anakanak kita.
Ketakutan akan melebur bersama kemenangan yang gagal
Ketika kau tak pernah mengenal derita,bagimu itu hanya sebutir absurditas.
Karena derita adalah darahku,maka bagimu celotehku hanya omongan kosong
Aku bercerita darah yang tak terlihat,manusia tanpa jiwa dan harapan adalah kematian.
Telah juga kusiapkan guciguci dan bersiaplah kremasi mimpimimpi absurd
Tabur di laut Pasifik.
Karena derita bagimu tiada,maka kalian hanya berpesta.aku bergabung
Bersama berpackpack lisong kita mulai berpesta.
Diatas bukit hijau yang membentang disepanjang jalan,ayo kita kepulkan asapnya
Sama seperti kereta dan peron laparnya.aku akan menyambut kegagalan dengan tintatinta hitam.
Desember 2011